BI Tahan Suku Bunga Acuan, Rupiah Ditutup Menguat ke Rp 14.832 per USD

BI Tahan Suku Bunga Acuan, Rupiah Ditutup Menguat ke Rp 14.832 per USD
UANG | 17 September 2020 16:01 Reporter : Anggun P. Situmorang

Merdeka.com - Nilai tukar Rupiah ditutup menguat tipis 10 poin di level Rp14.832 per USD dari penutupan sebelumnya di level Rp14.842 per USD. Sedangkan IHSG ditutup terkoreksi 0,4 persen ke level 5.038,4. Nilai transaksi tercatat mencapai Rp6,3 triliun dan investor asing keluar dengan net sell Rp433,59 miliar.

Direktur PT TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim, mengatakan pergerakan Rupiah dan IHSG dipengaruhi oleh keputusan Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan sebesar 4 persen demi menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah di tengah tekanan yang berpotensi masih terjadi di pasar keuangan.

"Namun tidak hanya suku bunga, BI juga mengumumkan bakal menempuh langkah-langkah lanjutan. Suku bunga fasilitas simpanan alias deposito facility tetap 3,25 persen dan bunga pinjaman atau lending facility sebesar 4,75 persen," ujar Ibrahim dalam riset harian, Jakarta, Kamis (17/9).

Bank Indonesia mencatat, hingga 16 September 2020, nilai tukar Rupiah tercatat depresiasi 1,58 persen secara point to point dibandingkan dengan akhir Juli 2020, atau terdepresiasi 6,42 persen dari akhir Desember 2019.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, mengatakan pelemahan Rupiah pada Agustus-September 2020 antara lain dipengaruhi masih tingginya ketidakpastian pasar keuangan, baik karena faktor global maupun sejumlah risiko domestik.

"Ke depan, Bank Indonesia memandang nilai tukar Rupiah berpotensi kembali menguat seiring levelnya yang secara fundamental masih undervalued didukung inflasi yang rendah dan terkendali, defisit transaksi berjalan yang rendah, daya tarik aset keuangan domestik yang tinggi, dan premi risiko Indonesia yang menurun," kata Perry.

Maka dari itu, lanjut dia, Bank Indonesia terus memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar Rupiah sesuai dengan fundamentalnya dan bekerjanya mekanisme pasar, melalui efektivitas operasi moneter dan ketersediaan likuiditas di pasar.

Baca Selanjutnya: Faktor Lainnya...

Halaman

(mdk/bim)

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami