Bisa Ditiru, Ini Rahasia Sukses Netflix

Bisa Ditiru, Ini Rahasia Sukses Netflix
Netflix. © digitaltrends.com
UANG | 11 Januari 2021 07:00 Reporter : Siti Nur Azzura

Merdeka.com - Pada tahun 2000, salah seorang pendiri Netflix, Reed Hastings membulatkan tekadnya untuk ke Dallas, Texas. Dengan gemetar dia meminta waktu untuk bertemu dengan CEO Blockbuster, perusahaan raksasa senilai USD6 miliar yang memiliki 9.000 cabang di seantero dunia.

Ukurannya nyaris 1.000 kali lipat Netflix, perusahaan rintisan Hastings yang terasa seperti tak ada artinya dibanding raksasa provider home movie dan layanan game rental itu.

Hastings dan rekannya melakukan promosi kepada CEO Blockbuster dan menawarkan kepadanya untuk membeli Netflix seharga USD50 juta dan untuk itu dia akan membiarkan mereka menjalankan situs web Blockbuster sebagai layanan persewaan video online. Sang CEO dengan tegas menolak.

Langkah CEO nyatanya terbukti salah. Sepuluh tahun kemudian, Blockbuster bangkrut karena tidak dapat mengimbangi inovasi Netflix, yang saat itu telah memiliki 167 juta pelanggan di seluruh dunia dan memproduksi film dan acara TV sendiri yang bahkan mampu memenangkan sejumlah penghargaan bergengsi.

Bagaimana Netflix dapat melakukan gebrakan dengan gesit hingga mencapai titik keberhasilan justru ketika raksasa Blockbuster gagal? Ternyata jawabannya mudah saja.

Dikutip Antara, pesan utamanya di sini adalah Netflix sukses karena budaya perusahaannya yang unik. Budaya Netflix yakni selalu menghargai orang, mengutamakan inovasi, dan memiliki sedikit mungkin mekanisme kontrol.

Dengan fondasi ini, Netflix telah membangun value yang sangat besar, tumbuh 300 kali lebih cepat daripada indeks saham NASDAQ selama 17 tahun. Terlebih lagi, survei pada 2018 memberinya peringkat tempat kerja teratas di Silicon Valley. Mungkin yang paling mengesankan, responsnya dengan gesit terhadap empat pergeseran industri seismik.

Netflix dimulai sebagai layanan langganan DVD-by-mail, kemudian dialihkan ke streaming. Dari sana, Netflix mulai melisensikan konten asli yang diproduksi oleh studio lain, dan akhirnya, mulai memproduksi film dan acara TV sendiri.

Hastings percaya bahwa semua ini bermula dari fakta bahwa di Netflix, karyawannya menikmati lebih banyak kebebasan dari pada perusahaan lain yang dia kenal. Kebebasan itu menginspirasi mereka untuk membuat keputusan yang lebih baik. Ini juga memudahkan untuk meminta pertanggungjawaban mereka.

Sukses Netflix dibagikan oleh Hasting dalam bukunya yang berjudul No Rules Rules ditulis pada 2020 yang mengisahkan perjalanan Netflix yang seperti dongeng dan budaya reinvensinya. Hastings sebagai co-Founder dan co-CEO Netflix sekaligus software developer bersama Erin Meyer, Profesor di INSEAD dan penulis buku The Culture Map menulis buku berjudul No Rules Rules.

Baca Selanjutnya: Kisah Dongeng...

Halaman

(mdk/azz)

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami