Bos Bappenas Beberkan Alasan Pertumbuhan Ekonomi RI Merosot ke 5 Persen

UANG | 3 Oktober 2019 19:03 Reporter : Supriatin

Merdeka.com - Pemerintah terus menggenjot pertumbuhan ekonomi agar terus meningkat. Sayangnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam 5 tahun terakhir berada di kisaran 5 persen. Angka ini lebih menurun dari 5 tahun sebelumnya yang bisa mencapai 6 persen.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Bambang Brodjonegoro mengatakan, ada unsur harga komoditas atau booming harga komoditas di periode Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014 yang membuat perekonomian tumbuh tinggi.

"Ketika kabinet ini dimulai kita tahu bahwa booming harga komoditas sudah berakhir dan akibatnya kiat tumbuh di seputaran 5 persen yang mungkin dianggap lebih rendah," kata Bambang di Jakarta, Kamis (3/10).

Seperti diketahui, pada periode 1968-1979, rata-rata pertumbuhan ekonomi Indonesia pada saat itu mencapai sekitar 7,5 persen. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh komoditas minyak dan gas. Bahkan pada masa itu, Indonesia sempat dijuluki raja minyak dengan kapasitas produksi mencapai di atas 1 juta per barel per hari.

Setelah melewati puncak kejayaannya, perlahan harga minyak mulai turun yang kemudian membuat ekonomi Indonesia melakukan penyesuaian. Sejak periode 1980-1996 pemerintah memutar otak dengan tidak mengandalkan minyak sebagai tumpuan, akan tetapi juga mengarah pada SDA lain seperti kayu dan manufaktur.

Semakin ke sini justru Indonesia kembali pada kebiasaan lama yakni bertumpu pada komoditas. Sebab ketika ekonomi bergantung pada sawit dan batu bara hasilnya rata-rata pertumbuhan ekonomi Indonesia pada periode 2000-2018 hanya 5,3 persen.

Meski mengalami penurunan, dia menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia sudah termasuk tinggi untuk ekonomi sebesar Indonesia. "Di bawah negara seperti China dan India namun, di atas dari banyak negara lainnya," imbuhnya.

Di lain sisi, inflasi Indonesia menjadi salah satu pencapaian yang cukup berhasil. Dia menjelaskan, inflasi selama 5 tahun ini berada di kisaran 3-4 persen. Hal ini menunjukkan pemerintah mampu menjaga stabilitas inflasi di tingkat rendah untuk pertahankan daya beli masyarakat.

"Demikian tingkat kemiskinan, yang berhasil diturunkan sampai single digit. Mulai tahun 2018, setelah sebelumnya selalu 2 digit bahkan agak jauh di atas 10 persen. Data terakhir menunjukkan tahun ini kemungkinan kita bisa menurunkan tingkat kemiskinan ke seputaran 9,2 persen pada akhir tahun," jelasnya. (mdk/azz)

Baca juga:
Pemerintah Diminta Waspadai 2 Faktor Pemicu Resesi Ekonomi
KSPI: Upah Minimum Bukan Berdasarkan Inflasi dan Pertumbuhan Ekonomi
Faisal Basri: RI Akan Alami Kemunduran Jika Jokowi Tak Terbitkan Perppu KPK
Dampak Kerusuhan Papua Terhadap Ekonomi Nasional Tidak Signifikan
ADB Kaji Dampak Rentetan Demonstrasi ke Ekonomi RI
Tren Belanja Online Milenial Topang Pertumbuhan Ekonomi RI 2020

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.