Bos BKPM: Dampak Covid-19 Terstruktur dan Masif Meluluhlantakkan Perekonomian Bangsa

Bos BKPM: Dampak Covid-19 Terstruktur dan Masif Meluluhlantakkan Perekonomian Bangsa
UANG | 13 Juli 2020 14:54 Reporter : Anisyah Al Faqir

Merdeka.com - Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Bahlil Lahadalia mengatakan dampak ekonomi dari pandemi Covid-19 selaiknya istilah TSM dalam pemilu. TSM yang dimaksud Bahlil yakni terstruktur, sistematis dan masif dalam meluluhlantakkan perekonomian suatu negara.

Tidak hanya pada konteks politik, dan sosial. Tetapi juga menimbulkan masalah baru pada sektor perekonomian.

"Covid ini hadir betul-betul mempunyai dampak terstruktur, sistemik dan masif yang mana meluluhlantakkan sendi sendi inovatif terhadap bangsa dan negara," tutur Bahlil saat menyampaikan Keynote Speech di acara Launching Buku Pandemi Corona: Virus Deglobalisasi, Masa Depan Perekonomian Global dan Nasional, Jakarta, Senin (13/7).

Bahlil menilai, hari ini pandemi dalam perspektif kesehatan sangat mengkhawatirkan. Namun dampaknya akan lebih jauh lagi pasca Covid-19. "Kondisi ekonomi sudah pasti akan hancur," ujar Bahlil.

Pandemi ini membuat masing-masing negara berusaha untuk memenuhi kebutuhan domestik. Sebab ini salah satu strategi untuk mempertahankan diri bagi tiap negara. Hal lainnya, Bahlil melihat ini pergerakan barang dan orang akan mengalami penurunan antar negara. Setidaknya akan terjadi dalam waktu minimal 1-3 tahun.

Selain barang, pergerakan orang juga akan berkurang. Sebab orang mulai ragu dan mempertanyakan kondisi negara tujuan aman atau tidak dari penyebaran virus corona. "Selain barang, (pergerakan) orang pun akan berkurang. Orang mulai ragu benar enggak nih satu negara ini aman?," ungkap Bahlil.

Di samping itu, masing-masing negara akan memaksimalkan ekonomi lokal untuk bertahan di masa pandemi. Sehingga saat ini sudah banyak daerah melakukan gerakan menanam pangan lokal untuk bertahan hidup. "Kalau di Papua itu orang kaya makan beras, kalau makan singkong itu dianggap orang tidak kaya dan sekarang kebalikan," kata Bahlil.

1 dari 1 halaman

Situasi Ketidakpastian

rev1

Dalam buku yang dikeluarkan Indef, Bahlil melihat ada beberapa pergolakan yang terjadi terkait pandemi di Indonesia. Situasi ketidakpastian ini terpotret dalam pertumbuhan ekonomi global yang diperkirakan mengalami kontraksi antara minus 4,9 sampai minus 3 persen. "Bahkan di beberapa negara berkembang juga diproyeksikan akan minus," ungkap Bahlil.

Kondisi ini juga sudah mulai terasa di Tanah Air. Akibat pandemi, pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal I-2020 berada di angka 2,97 persen.

Padahal saat itu, diperkirakan Covid-19 masuk ke Indonesia hanya dua pekan. Bahlil memperkirakan kondisi ini pertumbuhan ekonomi akan turun drastis bahkan sampai minus pada kuartal-II tahun 2020. "Kalau di kuartal II-2020 kemungkinan besar sudah minus," singkat Bahlil. (mdk/idr)

Baca juga:
BKPM Catat Potensi Investasi dari Relokasi Perusahaan Masuk RI Tembus Rp1.000 Triliun
Pandemi Tak Kunjung Usai, BKPM Kembali Revisi Target Investasi
Investasi Mangkrak Tembus Rp708 Triliun, Salah Satunya Disebabkan Hantu Berdasi
Bos BKPM Beberkan Faktor Pengaruhi Realisasi Investasi di Tengah Pandemi
Perusahaan Elektronik Asal China Relokasi Pabrik Senilai Rp1,3 T ke Subang
Jadi yang Tertinggi, BRI Catatkan Penjualan ORI017 Rp2,19 T per Juli

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami