Bos Bukalapak Sebut Penerapan Aturan E-Commerce Butuh Waktu 2 Tahun

UANG | 10 Desember 2019 19:13 Reporter : Yayu Agustini Rahayu

Merdeka.com - Presiden Bukalapak, Muhamad Fajrin Rasyid menyebutkan aturan e-commerce yang baru saja terbit dapat terealisasi sepenuhnya setidaknya dalam kurun waktu dua tahun. Sebab menurutnya, masih banyak hal yang perlu diperjelas.

"Kami pikir itu butuh 2 tahun implementasi karena itu belum bahas detail soal sanksi dan sebagainya. Kami punya waktu 2 tahun jalan terbaik sebaiknya gimana," kata dia saat ditemui di Gedung Kemenkeu, Jakarta, Selasa (10/12).

Dia mengungkapkan pelaku usaha secara garis besar telah setuju dengan aturan tersebut. Dan akan terus menjalin komunikasi dan diskusi bersama pemerintah.

"Kami sudah komunikasi dengan pemerintah, dari Indonesia E-commerce Association sudah ngobrol dan kita agree untuk terus mendiskusikan hal ini," ujarnya.

Dia mengungkapkan, salah satu hal yang perlu pembahasan lebih lanjut adalah keberadaan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dan juga perseorangan.

"Satu sisi kalau ada UKM banyak individu, apakah individu ini badan usaha? Kalau gak, solusinya gimana? Apakah badan usaha didefinisikan lebih lanjut? Kami diskusikan dengan kemendag," tutupnya.

1 dari 1 halaman

PP PMSE

Pemerintah telah resmi mengeluarkan aturan e-commerce yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 80 Tahun 2019 tentang Perdagangan Melalui Sistem Elektronik (PMSE).

Salah satu bunyi beleid tersebut adalah dalam melakukan PMSE, Pelaku Usaha wajib membantu program Pemerintah antara lain: a. mengutamakan perdagangan Barang dan/atau Jasa hasil produksi dalam negeri; b. meningkatkan daya saing Barang dan/atau Jasa hasil produksi dalam negeri; dan c. PPMSE dalam negeri wajib menyediakan fasilitas ruang promosi Barang dan/atau Jasa hasil produksi dalam negeri.

"PPMSE dalam negeri dan/atau PPMSE luar negeri wajib menggunakan Sistem Elektronik yang memiliki sertifikat kelaikan Sistem Elektronik sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan," bunyi Pasal 14 PP ini.

Menurut PP ini, Pelaku Usaha wajib memiliki izin usaha dalam melakukan kegiatan usaha PMSE. Namun Penyelenggara Sarana Perantara dikecualikan dari kewajiban memiliki izin usaha sebagaimana dimaksud jika: a. bukan merupakan pihak yang mendapatkan manfaat (beneficiary) secara langsung dari transaksi; atau b. tidak terlibat langsung dalam hubungan kontraktual para pihak yang melakukan PMSE.

Dalam rangka memberikan kemudahan bagi Pelaku Usaha untuk memiliki izin usaha sebagaimana dimaksud, menurut PP ini, pengajuan izin usaha dilakukan melalui Perizinan Berusaha Terintegrasi Secara Elektronik sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. (mdk/azz)

Baca juga:
Jadi yang Pertama, Blibli Dapatkan ISO 27001
2025, Transaksi E-Commerce RI Diprediksi Tembus Rp1.000 Triliun
Achmad Zaky Mundur, CEO Bukalapak Digantikan Rachmat Kaimuddin Mulai Januari 2020
Ada Aturan Baru, Pengurusan Izin Usaha Pedagang Online Tak Dipungut Biaya
Kemendag Buat Aturan Turunan Perdagangan Online Guna Jaring Penjual di Media Sosial
Transaksi Harbolnas 2019 Ditarget Tembus Rp8 Triliun

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.