Bos Bukit Asam Harap Perang Dagang AS-China Segera Usai agar Harga Batu Bara Naik

UANG | 28 Oktober 2019 11:22 Reporter : Dwi Aditya Putra

Merdeka.com - Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan Harga Batu bara Acuan (HBA) Oktober 2019 sebesar USD 64,80 per ton. ‎Harga tersebut mengalami penurunan semenjak triwulan III-2019. Realisasi HBA Oktober 2019 lebih rendah sekitar 1,5 persen, dibandingkan bulan lalu USD 65,79 per ton‎.

Direktur Utama PT Bukit Asam Tbk, Arviyan Arifin mengatakan, penurunan harga batu bara saat ini memang diluar kontrol perusahaan, terutama dipengaruhi dari sisi global maupun domestik. Faktor global sendiri, semua industri bergantung dengan kondisi perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China.

"Kita harapkan segera recovery lagi adanya kesepakatan penghentian perang dagang AS dan China akan mendongkrak harga batu bara," kata dia saat ditemui di Jakarta, Senin (28/10).

Dia mengatakan, penurunan harga batu bara ini juga berdampak pada kinerja bisnis Perseroan. Namun, di tengah penurunan harga jual pihaknya juga terus berupaya mendongkrak penjualan baik domestik maupun ekspor.

"Penjualan batu bara memang komposisi ada ekspor dan domestik 2019 pasar domestik 59 persen ekspor 41 persen domestik untuk PLN ekspor secara selektif," jelas dia.

Di samping itu, pihaknya juga tak bisa memprediksi kapan trend penurunan harga batu bara ini akan berakhir. Sebab, batu bara sendiri merupakan salah satu komoditi yang secara hukum ekonomi bergantung pada suplai dan demand.

Sebelumnya, Kepala Biro Komunikasi Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama Kementerian ESDM Agung Pribadi mengungkapkan, penyebab penurunan harga batu bara tersebut ‎sama seperti yang dialami pada bulan-bulan sebelumnya.

Berdasarkan kondisi pasar global, penyebab penurunan signifikan HBA September 2019 dipengaruhi oleh pembatasan impor batu bara dari Indonesia oleh China dan India, ditunjang dengan peningkatan produksi batu bara di China dan India.

‎Selain berlarutnya perang dagang antara AS dan China, juga terjadi penurunan permintaan batu bara dari Eropa‎ sehingga stok batu bara berlebih. ‎"Bahwa masih ada perang dagang Amerika China," kata dia. (mdk/idr)

Baca juga:
Laba Bukit Asam Tembus Rp 3,1 Triliun Hingga Kuartal III-2019
Holding Industri Pertambangan Berganti Nama Menjadi Mind Id
BUMN Hadir untuk Negeri, Salurkan Bantuan Bagi Warga di Lampung
Rangkaian Kegiatan BUMN Hadir untuk Negeri di Lampung
Bukit Asam Berhasil Jual Saham Treasuri Hampir Rp 2 Triliun

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.