Bos OJK Ingin Bank Syariah RI Bisa Bersaing dengan Konvensional

Bos OJK Ingin Bank Syariah RI Bisa Bersaing dengan Konvensional
UANG | 21 September 2020 10:41 Reporter : Anisyah Al Faqir

Merdeka.com - Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso ingin ingin ada penguatan kapasitas industri keuangan syariah, yang mampu bersaing dengan lembaga keuangan konvensional. Sebab, jumlah industri keuangan syariah sudah banyak dengan beragam variasi, namun Indonesia belum memiliki lembaga keuangan syariah yang besar.

Di mana lembaga tersebut bisa head to head berkompetisi dengan lembaga lain yang sudah ada dan cukup besar skalanya dan bisa kompetisi secara kuat. Misalnya dalam industri perbankan. Saat ini belum ada bank syariah yang masuk dalam kategori bank buku IV. Begitu juga degan industri keuangan non bank.

"Kita harus membuat lembaga keuangan syariah yang sepadan. Kita belum mempunyai bank syariah yang besar, yang buku 4, apalagi industri keuangan non bank," kata Wimboh dalam Forum riset Ekonomi Keuangan Syariah 2020, Jakarta, Senin (21/9).

Dia menyambut baik rencana Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang ingin melakukan merger bank syariah BUMN. "Tentunya akan bisa menjadi bank syariah yang levelnya sama seperti bank buku IV," ungkapnya.

Selain itu, dia juga ingin bank syariah meningkatkan daya saingnya. Untuk itu pihaknya akan berupaya meningkatkan skala ekonomi industri keuangan syariah. Salah satunya melalui peningkatan nominal-nominal modal minimum maupun akselerasi konsolidasi.

"Jangan sampai hanya ingin bertahan hidup tapi kita harus besar dan bisa bersaing itu adalah yang lebih penting," kata dia. (mdk/azz)

Baca juga:
Di Pesta Rakyat Simpedes, Nur Agis Aulia Tunjukan Milenial Bisa Sukses Lewat Bertani
Menko Luhut: Tenaga Kesehatan Paling Pertama Dapat Imunisasi Vaksin Corona
Pesta Rakyat Simpedes 2020 Episode 2 Hadirkan Petani Milenial Sukses Hingga Slank
Dapat Pinjaman Rp 4,2 Triliun, KAI Targetkan LRT Jabodebek Beroperasi di 2022
Dapat Dana PEN Rp5 Triliun, BTN Target Bisa Salurkan Kredit Hingga Rp15,38 Triliun
Restrukturisasi Kredit Properti Lambat, Cashflow Pengembang Mulai Terganggu

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami