Bos OJK Kaget Ada Orang Pinjam Online 20 Kali dalam Semalam

UANG | 23 September 2019 14:47 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Wimboh Santoso kaget mendapat data bahwa ada masyarakat yang meminjam uang melalui financial technology (fintech) peer to peer lending atau pinjaman online sebanyak 20 kali dalam satu malam. Menurut Wimboh, hal ini tidak lazim tidak sesuai etika bisnis.

Wimboh menegaskan, etika sangat penting diikuti oleh pihak lender (pemberi pinjaman) dan juga borrower (peminjam), apalagi karena ada orang yang tak sadar diri ketika pinjam online.

"Etika tidak hanya untuk provider fintech saja, tetapi juga untuk peminjam. Saya ada beberapa bukti, ada pelanggan yang mengajukan pinjaman sebanyak 20 kali dalam satu malam kepada provider berbeda. Kok bisa?" tutur Wimboh.

Wimboh mengingatkan agar para peminjam sadar diri terkait kemampuan membayar utang tersebut. Selain itu, edukasi dan tingkat membaca juga harus ditingkatkan agar borrower dan lender punya pemahaman yang sama soal produk peer to peer lending.

Seperti diketahui, ada peer to peer lending yang bunganya amat tinggi. Aplikasi mereka pun bisa diprogram agar bisa mengintip kontak di smartphone peminjam, alhasil taktik teror kerap terjadi jika peminjam tak mampu membayar.

Wimbo mengaku telah meminta asosiasi fintech untuk membuat kode etik yang berfungsi melindungi konsumer.

"Sebetulnya kami meminta asosiasi untuk mengidentifikasi siapa saya anggota yang menyediakan jasa fintech dan membuat kode etik. Tujuannya adalah untuk melindungi konsumen," ujar Wimboh.

OJK ke depannya akan menjalankan mandat hukum agar terus melindungi konsumen. Pada saat yang sama, OJK memastikan agar borrower dan lender di peer to peer lending bisa beraktivitas sesuai market conduct. Wimboh juga berharap akses ekonomi digital ini bisa turut menjangkau ke wilayah perkampungan.

Reporter: Tommy Kurnia

Sumber: Liputan6.com

Baca juga:
OJK Atur Kode Etik untuk Perusahaan dan Konsumen Fintech
Menko Darmin Harap Fintech Bisa Rambah ke Daerah Terpencil
Dukung Perkembangan Ekonomi Digital, BI Permudah Perizinan Fintech
Sri Mulyani Sebut Akses Teknologi di Luar Jakarta Masih Rendah
Fintech Amartha Salurkan Pendanaan Rp1,35 Triliun

(mdk/idr)