BPJS Kesehatan Defisit Sejak 2014, Ini Sebabnya

UANG | 21 Agustus 2019 16:38 Reporter : Anggun P. Situmorang

Merdeka.com - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati membeberkan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan telah mengalami defisit sejak 2014. Pada awal penerapannya, badan usaha pelayanan kesehatan tersebut mencatatkan defisit sekitar Rp1,9 triliun.

"Defisit BPJS dari tahun ke tahun. Kalau dilihat PMN pemerintah pada 2015 sebesar Rp5 triliun, defisitnya tadi pada 2014 Rp1,9 triliun," ujar Sri Mulyani saat menghadiri rapat kerja di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (21/8).

Pada 2015, defisit kemudian berlanjut menjadi Rp9,4 triliun pemerintah pun turun tangan menyuntikkan dana sebesar Rp5 triliun. Hal tersebut dilakukan agar BPJS kesehatan tetap dapat menyediakan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.

"Setahun kemudian di 2015 langsung meledak ke 9,4 triliun, 2016 agak turun sedikit ke 6,7 triliun karena ada kenaikan iuran. Sesuai dengan Prepres iuran itu tiap 2 tahun di riview namun semenjak 2016 sampai sekarang belum diriview lagi," jelas Sri Mulyani.

Defisit masih terus terjadi pada tahun berikutnya. Pada 2017 membengkak menjadi Rp13,8 triliun, tak tinggal diam pemerintah pada saat itu menyuntik lagi dana kepada BPJS kesehatan sebesar Rp3,6 triliun. Demikian pula 2018 defisit sebesar Rp19,4 triliun dan 2019 yang diprediksi akan lebih besar.

"Di tahun 2018 defisitnya mencapai Rp19,4 triliun, kami menginjeksinya 10,3 triliun. Masih ada Rp9,1 triliun di 2018 yang belum tertutup, 2019 ini akan muncul lagi defisit yang lebih besar lagi," katanya.

Defisit BPJS Kesehatan disebabkan oleh struktur iuran masih d bawah perhitungan aktuaria (underpriced), banyak peserta PBPU (mandiri/informal) yang mendaftar pada saat sakit dan setelah mendapat layanan kesehatan berhenti mengiur.

Selain itu, tingkat keaktifan Peserta PBPU cukup rendah hanya sekitar 54 persen sementara tingkat utilitasinya sangat tinggi, dan beban pembiayaan penyakit katastropik yang sangat besar lebih dari 20 persen dari total biaya manfaat.

Baca juga:
Menteri Sri Mulyani Naik Pitam BPJS Kesehatan Kerap Minta Bantu Tambal Defisit
Menkeu Laporkan Ada Perusahaan Sengaja Kurangi Jumlah Pekerja Peserta BPJS Kesehatan
Banyak Peserta BPJS di Garut Ogah Bayar Iuran, Tunggakan Capai Rp50 Miliar
Presiden Jokowi akan Keluarkan Perpres Terkait Kenaikan Iuran BPJS
Ridwan Kamil Minta Kenaikan Iuran BPJS Kesehatan Dikaji Ulang
Uang Klaim BPJS Rp7 Miliar Dikorupsi untuk Beli Rumah, Tanah dan Tas Mewah

(mdk/azz)