Bulog Ekspor 100 Ton Beras Kemasan ke Arab Saudi

Bulog Ekspor 100 Ton Beras Kemasan ke Arab Saudi
UANG | 17 Februari 2020 17:26 Reporter : Dwi Aditya Putra

Merdeka.com - Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso mengatakan, pihaknya bakal mengekspor 100 ton beras dalam bentuk kemasan ke Arab Saudi. Dalam beberapa minggu ke depan beras tersebut sudah siap dikirim ke negara tersebut.

"Iya ke Arab Saudi. Yang diminta itu dulu yang kemasan 5 kg, 1 kg, itu akan kita penuhi karena dia sudah setuju beras dari kita," kata Buwas di Kemenko Perekonomian, Jakarta, Senin (17/2).

Buwas menyebut izin ekspor diterima pihaknya baru keluar untuk 5 kontainer atau setara dengan 100 ton. Jumlah izin itu, lebih rendah jika dibandingkan dengan target awal sebesar 8 kontainer.

"Ya izinnya baru bisa 5 kontainer ya segitu dulu. Kurang lebih 20x5 ya 100 ton," kata dia.

Selain Arab Saudi, Perum Bulog juga telah menjajaki tujuan ekspor ke negara-negara lainnya. Mengingat saat ini jumlah stok beras di Gudang Bulog juga hampir penuh. Apalagi, pada Maret-April mendatang panen raya bakal terjadi dengan serapan mencapai 2,7 juta ton.

"Ada beberapa saya jajaki tapi yang baru putus kan Arab Saudi. Artinya disini sudah ada peluang kita ekspor," tandas dia.

1 dari 1 halaman

Tujuan Jual Beras Kemasan

Perum Bulog bakal memperkenalkan produk baru yaitu beras dalam kemasan sachet atau renceng. Meski harga per sachet hanya Rp 2.500, namun beras tersebut memiliki kualitas premium.

Direktur Komersial Bulog, Tri Wahyudi Saleh menjelaskan, pihaknya sengaja menjual beras premium dengan ukuran sachet. Hal tersebut agar beras dengan kualitas ini bisa terjangkau oleh masyarakat menengah ke bawah.

"Kita kan kasih kualitas yang terbaik. Tidak mau makan beras pera kan?," ujar di di Gudang Bulog Divisi Regional (Divre) DKI Jakarta dan Banten, Rabu (6/6).

Selain itu, hal ini juga dalam rangka menyerap beras dengan kualitas yang baik dari dalam negeri. Sebab, beras premium tersebut dibeli dari petani lokal di mana Divisi Regional (Divre) Bulog berada.

"(Stok beras premium) Ada. Kan kita beli terus beras petani, kita giling jadi beras premium. Tidak ada masalah," kata dia.

Meski mengaku tidak mendapatkan untung dari penjualan produk ini, namun Tri menyatakan hal tersebut tidak menjadi masalah bagi perusahaan. Sebab, Bulog memiliki unit usaha lain yang memberikan keuntungan.

"(Rugi) Enggak lah, kita kan masih banyak bisnis lain. (Biaya produksi) Ketutup. Kan kita cari yang lebih efisien, kan volumenya banyak," tandas dia. (mdk/did)

Baca juga:
Kementerian BUMN Ingin Bulog Integrasikan Data Perpajakan dengan DJP
Bos Bulog Ungkap Syarat Indonesia Tak Impor Beras Tahun ini
Pastikan Ketersediaan Pasokan, Bulog Modifikasi Gudang Beras Aman dari Banjir
Pemenang Lelang Beras Turun Mutu Diputuskan Usai Natal
Bank BJB Suntik Bulog Modal Rp1 Triliun untuk Akselerasi Bisnis
Penyelundupan Garuda Indonesia Sampai Kasus Jiwasraya Bikin Heboh Sepanjang 2019
Mentan Pastikan Stok Pangan Aman untuk Tiga Bulan ke Depan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami