Capai 100 Ton Per Tahun, Budidaya Sidat di Banyuwangi Berpotensi Jadi Wisata Edukasi

Capai 100 Ton Per Tahun, Budidaya Sidat di Banyuwangi Berpotensi Jadi Wisata Edukasi
UANG » BANYUWANGI | 10 Juli 2020 20:11 Reporter : Mohammad Ulil Albab

Merdeka.com - Produksi hasil pembesaran ikan sidat di Kabupaten Banyuwangi yang dikerjakan oleh PT Iroha Sidat Indonesia (ISI) anak usaha PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JAPFA) bisa mencapai 100 ton per tahunnya dan telah menembus berbagai pasar ekspor mancanegara.

Melihat potensi tersebut, ISI bakal bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi mengembangkan wisata edukasi.

Hal tersebut disampaikan, Head of Aquaculture Division JAPFA Ardi Budiono saat menerima kunjungan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia, Edhy Prabowo bersama jajaran anggota DPR RI dan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, Jumat (10/7).

"Di fasilitas wisata edukasi ini, pengunjung dapat melihat secara langsung proses budidaya sidat dan udang. Selain itu, pengunjung juga dapat melihat proses pengolahan sidat secara virtual. Pengunjung pun dapat menikmati langsung dan membeli produk olahan sidat sebagai buah tangan," ujar Ardi.

Dalam kesempatan tersebut, Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy bersama rombongan juga menyaksikan bagaimana proses pembesaran budidaya sidat, proses panen hingga produksi kemasan sidat siap ekspor di lahan seluas 45,01 hektar di Desa Bomo.

"Pabrik di Banyuwangi ini berhasil melakukan pembesaran sidat dengan baik, nilai ekspornya termasuk yang paling mahal di Indonesia. Dengan produksi mencapai 100 ton per tahun, harganya mencapai Rp500 ribu per kilogram,” ujar Edhy.

Lebih lanjut, Ardi mengatakan, selain bisa menjadi wisata edukasi di Banyuwangi, pihaknya juga bakal mendirikan pusat riset dan pelatihan budidaya perikanan bekerjasama dengan Kindai University Jepang dan Universiti Malaysia Sabah,

"Melalui fasilitas ini, diharapkan industri budidaya perikanan Indonesia dapat semakin berkembang dan membawa dampak positif bagi masyarakat," ujarnya.

Ardi mengatakan, ikan sidat memang tergolong sulit dibudidayakan karena masih mengandalkan bibit dari alam. Menjamin ketersediaan bibit dan keberlangsungan ikan sidat di alam, pihaknya melakukan sistem restocking atau pengembalian ke alam.

"Kami selalu memastikan bahwa sidat yang kami budidayakan akan kami kembalikan ke alam. Sejak tahun 2015, kami mengembalikan lebih dari 250 ribu ekor sidat ke habitatnya," ujarnya.

Sementara itu Bupati Abdullah Azwar Anas menyampaikan, selain dikembangkan oleh perusahaan, sidat juga mulai dikembangkan oleh pembudidaya rakyat.

"Saat ini, sudah ada kelompok pembudidaya sidat yang berkembang di Banyuwangi. Pembudidaya rakyat ini juga sudah melakukan ekspor, meskipun masih dalam skala kecil,” kata Anas.

Anas menambahkan untuk pengembangan sidat memang butuh treatment khusus. Namun kondisi perairan Banyuwangi sendiri sangat mendukung dan harga sidat lebih menjanjikan dibandingkan komoditas perikanan lainnya.

"Karena prospeknya besar, kami terus mendorong warga untuk membudidayakan sidat. Semoga bisa terus berkembang, menjadi instrumen untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat," ujarnya. (mdk/hrs)

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami