Cerita pedagang pasar Tanah Abang Blok G sepi pembeli di awal Ramadan

Cerita pedagang pasar Tanah Abang Blok G sepi pembeli di awal Ramadan
Tanah Abang sepi pembeli di hari pertama bulan puasa. ©2018 Merdeka.com/Wilfridus Setu Embu
UANG | 18 Mei 2018 14:14 Reporter : Wilfridus Setu Embu

Merdeka.com - Bulan puasa, selalu menjanjikan berkah. Termasuk bagi para pedagang. Namun, kenyataan yang berbeda justru ditemui pedagang yang mencari hidup dengan berjualan aneka busana di Pasar Tanah Abang Blog G, Jakarta Pusat.

Salah satu pedagang, Eti mengaku dagangannya sepi di hari-hari pertama bulan puasa. perempuan yang menjual sepatu dan busana perempuan muslim ini tengah bercengkrama dengan sesama pedagang. Sementara pedagang lain ada yang tidur-tiduran. Ada juga yang mengisi waktu dengan menonton video di laman YouTube.

"Begini saja. Pada belanjanya (dari toko grosir) naik, yang belanja (pembeli) tidak ada, bagaimana ceritanya," ujarnya kepada merdeka.com, Jumat (18/5).

Pantauan merdeka.com, sejak pukul 10.30, tak banyak pembeli yang datang. Sesekali satu pembeli datang, tawar-menawar, dan pergi. Lama lagi baru datang lagi satu atau beberapa pembeli. Lorong-lorong pasar pun kosong melompong.

Eti yang berjualan bersama beberapa sanak keluarga mengatakan kini kompleks Blok G Pasar Tanah Abang semakin sepi. Tak hanya sepi pembeli, tapi juga sepi pedagangnya.

tanah abang sepi pembeli di hari pertama bulan puasa

Tanah Abang sepi pembeli di hari pertama bulan puasa ©2018 Merdeka.com/Wilfridus Setu Embu

"Begini saja. Coba naik ke atas (lantai 3 Blok G). Bisa main bola di atas (saking sepinya pembeli dan tak banyak pedagang lagi yang berjualan)," katanya.

Dia juga mengatakan ada kenaikan harga barang yang dia jual. Hal ini dikarenakan naik harga di toko grosir langganannya. Meskipun begitu dia enggan membeberkan lebih jauh rentang harga jualannya.

"Kalau harga pasti naik dibandingkan tahun lalu. Kita kan beli dari orang, bedanya Rp 10.000 dengan harga beli. Kalau di grosir naik, kita naik," jelas Eti.

Tak hanya Eti yang murung. Pedagang lain, Herman juga mengalami kenyataan yang tak sesuai ekspektasi. Dia mengaku hari pertama bulan puasa tempatnya tak ramai sejak pagi.

"Sepi saja nih di hari pertama (bulan puasa," keluhnya.

Hendra, yang kesehariannya menjual aneka baju kokoh pun tak tahu alasannya. "Tahun-tahun dulu juga ya sama saja. Sepi. Mungkin hari pertama bulan puasa, (orang) lebih banyak di rumah saja."

Pria paruh baya ini hanya bisa berharap, hari-hari ke depan keadaan berbalik dan pembeli ramai datang mengunjungi tempat jualannya, membeli baju kokoh dan busana lain, yang dijual Rp 70.000 hingga Rp 100.000. (mdk/azz)


Heboh, Jubir HTI bakal jadi pembicara di Masjid UGM
Awal puasa, harga daging ayam hingga bawang merah di Solo merangkak naik
Ingin berat badan turun saat Lebaran? Jauhi 4 makanan ini
PLN sebar diskon tambah daya selama Ramadan, berlaku sampai 30 Juni 2018
Ini jadwal berbuka puasa Ramadan hari ke 2, 18 Mei 2018

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami