Cerita Pengusaha Salon di Purwakarta Banting Setir Bangun Usaha Keripik

Cerita Pengusaha Salon di Purwakarta Banting Setir Bangun Usaha Keripik
Pengusaha Salon Banti Setir Bisnis Kuliner. ©2022 Merdeka.com
EKONOMI | 26 Januari 2022 21:23 Reporter : Anisyah Al Faqir

Merdeka.com - Tahun 2009 Lia Yulia mulai bekerja di salah satu salon kecantikan tempat tinggalnya di Purwakarta. Berbekal nekat, dia melamar posisi pekerja salon yang kala itu kosong. Beruntung Yuli, sapaannya diterima, meski tanpa keahlian bidang kecantikan sama sekali.

Sang bos dan beberapa senior pun secara bergantian mengajarkan hingga menjadi mahir. Sempat beberapa kali pindah salon, pelanggan Yuli makin banyak.

Lelah bekerja untuk salon orang lain, tahun 2019 Yuli memutuskan keluar. Berbekal pelanggan yang sudah banyak, dia memulai bisnis salon panggilan. Yuli menawarkan jasanya dengan datang ke rumah pelanggan satu persatu.

Tak hanya menjual jasa perawatan kecantikan, Yuli iseng membawa beberapa camilan untuk sekalian dijajakan. Gayung bersambut, berbagai camilan yang dibawa kerap ludes setiap kali mendapat panggilan. Dari sana muncul ide untuk mulai berbisnis kuliner.

"Jadi muncul ide sekalian bisnis kuliner. Pelanggan Teteh kan hampir seluruh Pasar Rebo, ada di nih kesempatannya," cerita Yuli kepada merdeka.com beberapa waktu lalu lewat sambungan telepon.

Ide jualan camilan disambut sang suami. Zaenal pun menyanggupi untuk mengolah pisang menjadi keripik. Tak hanya daging buah yang dijadikan camilan garing, kulit pisang pun diolahnya menjadi makanan ringan.

Produksi keripik dilakukan sepulang Zaenal berjualan di pasar dan ketika Yuli tak ada panggilan untuk jasa perawatan kecantikan. Karena keripik makanan awet, maka produksi dilakukan dalam jumlah besar.

Manisnya bisnis baru Yuli tak berlangsung lama. Gara-gara pandemi Covid-19, tak ada lagi panggilan untuk perawatan kecantikan. Artinya produk keripik pisang buatannya tak bisa dipasarkan.

Namun Yuli tak patah arang. Dia menjajakan dagangannya melalui media sosial. Mulai dari status WhatsApp, lewat Instagram hingga membuka toko online. Kala itu produksi keripik mengalami penurunan seiring dengan minat pelanggan yang kurang.

Yuli memutar otak agar jualannya tetap ada yang membeli. Dia pun mencoba peruntungannya dengan bergabung ke beberapa komunitas. Dia ikuti pelatihan UMKM agar bisnis tetap berjalan dan bisa lebih baik.

"Alhamdulillah di Purwakarta ini banyak komunitas, Teteh jadi sering ikut pameran-pameran jualan kripik," kata dia.

Ikut beragam pelatihan membuat Yuli makin berkembang. Kemasan keripik yang hanya berupa plastik bening dengan stiker bertuliskan Yuli Kuliner kini telah berubah. Merek dagangnya pun berubah karena terlalu pasaran dan kurang menjual secara marketing. Meskipun produk Yuli Kuliner telah dikenal dan akrab di telinga para pelanggan.

Namun mimpi Yuli menjalankan bisnisnya begitu besar hingga dia memberanikan diri mengganti nama menjadi Ya'zaen, akronim dari namanya dan sang suami, Yuli-Zaenal. Bahkan nama Yazen sebagai produk kuliner telah didaftarkan secara resmi sebagai Hak Kekayaan Intelektual (HKI).

Kini dalam sepekan dia sudah harus tiga kali memproduksi keripik pisang. Tak kurang sekali produksi membutuhkan 50 kilogram pisang untuk menjadi 200 bungkus kemasan keripik. Masing-masing kemasan berisi 100 gram keripik pisang

Tak hanya itu, varian cemilan juga bertambah. Ada aneka singkong berbumbu siap goreng dalam bentuk makanan beku. Makanan beku ini juga sukses terjual banyak bila Yuli ikut pameran kuliner. Sekali produksi dia membutuhkan 150 kilogram singkong diolah untuk dijadikan kemasan dengan berat 450 gram.

Dalam menjalankan bisnisnya Yuli dibantu 8 orang reseller. Mereka memasarkan produk kuliner Yazen secara online maupun offline di seluruh Purwakarta dan sekitarnya.

2 dari 2 halaman

Jatuh Bangun Modal Usaha

modal usaha rev1

Yuli mengaku awalnya menjalankan bisnis dengan modal pinjaman. Selama itu pula, Yuli mengaku tak pernah berkah. Pendapatan selalu habis untuk membayar utang. Kesalahan manajemen keuangan membuat Yuli kini enggan menggunakan uang pinjaman sebagai modal usaha.

"Teteh ini korban riba, jadi trauma. Jalani bisnis jadi tertekan karena dituntut harus membayar utang," ungkapnya.

Tak ingin terjerat riba, selama 2 tahun dia berusaha melunasi utang-utang. Memulai bisnis dengan modal sendiri. Bermodalkan Rp 500.000, bisnis makanan ringan ini dirintisnya kembali. Setiap keuntungan yang didapat dijadikan modal usaha. Hanya sebagian yang diambil untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Hingga suatu hari ada seseorang yang menawarkan investasi untuk menambah modal. Tidak banyak suntikan modal yang diberikan, hanya Rp 1,5 juta. Tambahan modal tersebut menjadi angin segara bisnis Yuli. Keduanya sepakat membagi keuntungan 70:30, 70 persen keuntungan masuk ke kantongnya, dan 30 persen untuk pemodal.

Sayangnya, investasi tersebut tidak bertahan lama. Sang investor yang merupakan mahasiswa menarik investasi karena dana tersebut akan digunakan untuk kepentingan sekolah.

"Ya mau tidak mau kan harus dikembalikan. Jadinya kita menggunakan modal yang ada dan terbatas," kata dia.

Saat ini selain memasarkan produknya, Yuli juga mencari-cari peluang investasi. Dia banyak menawarkan kerja sama dengan pihak lain untuk memberikan permodalan. Sudah ada pengusaha asal Surabaya yang mulai melirik dan berniat untuk menyuntikkan dana.

Minimnya modal membuat omzet menjadi turun. Kini setiap bulan dia hanya mengantongi keuntungan Rp 3 juta - Rp 4 juta. Diakui Yuli, manajemen keuangannya sempat kacau waktu itu. Pendapatan seringkali bercampur dengan keuangan rumah tangga.

Dari berbagai pelatihan yang diikuti, Yuli mulai berbenah. Uang pendapatan hasil jualan tidak dicampur dengan keuangan rumah tangga. Setiap keuntungan yang didapat kini digunakan untuk membeli barang modal. Mengingat selama ini saat produksi hanya menggunakan peralatan yang ada di dapur pribadinya.

"Keuntungannya ini belum ngumpul, karena setiap ada untung Teteh beli gas kemarin, beli alat potong untuk keripik. Pokoknya kalau ada lebihan diputar lagi buat modal," kata dia.

Ibu dari 3 anak ini masih memiliki mimpi besar untuk bisnis kulinernya. Selain sering ikut pameran atau bazar, produk makanan ringan Ya'zaen tengah didaftarkan untuk diekspor keluar negeri. Tak hanya itu, Yuli juga ingin memiliki gerai dan rumah produksi sendiri.

Selama menjalankan bisnisnya, dia mengaku tidak lagi memiliki ruang tamu di rumahnya. Ruang tamu telah disulap menjadi ruang produksi. Dia meyakini dengan memiliki rumah produksi sendiri, bisnisnya makin lancar karena bisa mendapatkan sertifikat halal. Sebab salah satu persyaratan untuk mendapatkannya, harus memiliki rumah produksi yang terpisah dengan rumah tinggal.

"Sertifikasi halal ini belum diurus, karena Teteh masih belum PD (percaya diri) soalnya belum punya rumah produksi sendiri," kata dia.

Selain itu, dia juga ingin lebih banyak memiliki reseller yang membantu menjual produk olahan Yazen. Agar produk yang terjual makin banyak dan lebih luas, tidak hanya di Purwakarta dan sekitar Jawa Barat. (mdk/azz)

Baca juga:
Sehari Omzet Rp20 Juta, Rumah Makan ini Habiskan 10 Ember Sambal
Dulu Utang Rp300 Juta, Tukang Bakso ini Kini Sukses karena Istri Omzet Rp20 Juta/Hari
Luar Biasa, Kue Pinggir Jalan ini Beromzet Belasan Juta Per Hari, Antre Sampai 2 Jam
Berani Berubah: Drummer Band Bikin Layanan Service Sepeda
Tips untuk Pelaku Usaha Ritel Bertahan di Tengah Gempuran Persaingan Harga
Jualan Online, Pria di Bogor Kantongi Rp50 Juta per Bulan dari Usaha Ketoprak

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami