Curhat Pengusaha: Stimulus Tak Tepat Sasaran Hingga Minta Keringanan Tagihan Listrik

Curhat Pengusaha: Stimulus Tak Tepat Sasaran Hingga Minta Keringanan Tagihan Listrik
Ilustrasi hotel. ©Shutterstock/Joan Quevedo Fle
UANG | 15 Juli 2020 07:00 Reporter : Idris Rusadi Putra

Merdeka.com - Pemerintah telah memberikan kelonggaran kepada beberapa sektor usaha dalam menghadapi peliknya masa pandemi. Salah satunya untuk industri makanan dan minuman serta hotel. Beroperasinya kembali sejumlah mal juga diharapkan mampu membuat roda ekonomi kembali bergerak.

Sayangnya, secara umum kondisi industri restoran bernasib sama dengan industri perhotelan. Sektor restoran juga mengalami kerugian keuangan, kehabisan modal kerja dan memiliki beban utilitas yang tinggi.

"Restoran juga mengalami kerugian keuangan, kehabisan modal kerja, beban utilitas yang tinggi dan kesulitan keuangan," kata Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) kata Hariyadi Sukamdani dalam Rapat Dengan Pendapat (RDP) bersama Komisi X, DPR-RI secara virtual, Jakarta, Selasa (14/7).

Restoran yang beroperasi di dalam mal mengalami beban operasional yang besar. Sebab banyak mal yang sulit memberikan potongan sewa ruangan sesuai kemampuan cash flow penyewa.

Jumlah pengunjung restoran juga masih rendah. Padahal sektor restoran sudah memiliki panduan umum penerapan protokol kesehatan.

Akibatnya, sebagian restoran kini mulai fokus melakukan penjualan produk secara daring. Selain itu, beberapa bahan baku impor seperti gula bawang putih, dan susu mulai mengalami kelangkaan.

"Beberapa bahan baku impor seperti gula, bawang putih dan susu mulai mengalami kelangkaan," kata dia.

Untuk membantu pengusaha, bantuan stimulus yang diberikan pemerintah juga dinilai tak tepat sasaran di tengah pandemi.

Baca Selanjutnya: Stimulus Tak Tepat Sasaran...

Halaman

(mdk/idr)

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami