Dampak Virus Corona, Pertumbuhan Ekonomi RI Bisa Sampai Negatif 0,4 Persen

Dampak Virus Corona, Pertumbuhan Ekonomi RI Bisa Sampai Negatif 0,4 Persen
UANG | 1 April 2020 10:31 Reporter : Dwi Aditya Putra

Merdeka.com - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia bakal berada di kisaran 2,3 persen, bahkan skenario terburuknya bisa menyentuh negatif 0,4 persen. Ini bisa terjadi jika pandemi virus corona terus berlangsung dalam jangka panjang, sehingga menghantam pertumbuhan ekonomi Indonesia.

"Kami, Bank Indonesia, LPS, OJK memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia turun 2,3 persen bahkan bisa negatif 0,4 persen," kata menteri Sri Mulyani dalam video conference di Jakarta, Rabu (1/4).

Dia menjelaskan, penyebaran virus corona yang masif di Indonesia membuat penurunan pada kegiatan ekonomi. Itu terjadi pada berbagai sektor lembaga keuangan di Indonesia seperti perbankan hingga konsumsi rumah tangga yang menurun.

"Konsumsi rumah tangga turun, bisa mencapai 2,60 persen, investasi juga turun" imbuhnya.

Di sektor konsumsi rumah tangga terjadi ancaman kehilangan pendapatan masyarakat karena tidak dapat bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup. Terutama rumah tangga miskin dan rentan serta sektor informal.

Kemudian, penurunan lainnya juga terjadi pada UMKM. Pelaku usaha ini tidak dapat melakukan kegiatan usahanya sehingga terganggu kemampuan memenuhi kewajiban kredit.

"Sehingga kondisi itu membuat NPL kredit perbankan untuk UMKM dapat meningkat secara signifikan. Sehingga berpotensi semakin memperburuk kondisi perekonomian," katanya.

1 dari 1 halaman

Sektor Lain

Bendahara negara ini menambahkan pelemahan perekonomian juga berdampak ke sektor korporasi dan sektor keuangan lainnya. Sektor korporasi terganggu aktivitas ekonominya yang paling rentan yakni di bidang manufaktur, perdagangan, dan transportasi.

"Gangguan aktivitas bisnis tersebut akan menurunkan kinerja bisnis sehingga menyebabkan pemutusan hubungan kerja dan bahkan mengalami ancaman kebangkrutan," katanya.

Selanjutnya yang terjadi di sektor perbankan dan perusahaan pembiayaan berpotensi mengalami persoalan likuiditas. Sehingga menyebabkan depresiasi rupiah volatilitas pasar keuangan dan capital flight. (mdk/azz)

Baca juga:
Bank Dunia Beri Rekomendasi untuk Negara Berkembang Atasi Dampak Corona
Bank Indonesia Ramal Perekonomian Baru Pulih dari Terjangan Corona Tahun Depan
Bank Indonesia: Kepercayaan Investor pada Prospek Ekonomi RI Tetap Tinggi
OJK Prediksi Perekonomian Dunia Pulih dari Corona di Semester II 2020
Sri Mulyani Beberkan Upaya Indonesia Keluar dari Tekanan Ekonomi Global
Terdampak Virus Corona, Pengusaha Minta Tunda Pembayaran THR Karyawan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami