Dampak Virus Corona, Sektor Pariwisata RI Terancam Kehilangan Rp38,3 Triliun

Dampak Virus Corona, Sektor Pariwisata RI Terancam Kehilangan Rp38,3 Triliun
UANG | 7 Februari 2020 15:46 Reporter : Anisyah Al Faqir

Merdeka.com - Sektor pariwisata Indonesia diperkirakan kehilangan potensi pendapatan hingga USD 2,8 miliar atau setara Rp38,3 triliun. Angka ini berasal dari 2 juta turis China yang datang ke Indonesia, dengan rata-rata pengeluaran hingga USD 1.400 atau Rp19 juta.

"Hitungannya 2 juta wisatawan per visit mereka spend USD 1.400," kata Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Whisnutama di Kantor Kementerian PUPR, Jakarta Selatan, Jumat (7/2).

Selain itu, sektor pariwisata tahun ini berpotensi mengalami penurunan turis dari negara lainnya, karena calon wisatawan khawatir untuk bepergian. Hal ini terlihat dari masa reservasi (booking period), di mana biasanya turis asing memesan tiket dan akomodasi lainnya di bulan Februari, Maret dan April.

Dia menjelaskan, reservasi pada bulan-bulan tersebut biasanya digunakan untuk berlibur di musim panas, sekitar bulan Juni, Juli dan Agustus. Namun, dengan belum ditemukannya obat anti virus corona hingga saat ini, bisa memicu orang enggan melakukan pemesanan liburan ke Indonesia.

"Pada saat booking periode ini terjadi virus corona kan jadi agak ragu orang, jadi takut," imbuhnya.

Sehingga meski virus teratasi dalam 3 bulan, dampaknya akan terasa hingga pertengahan tahun. "Walaupun virus corona cuma selesai di tiga bulan ini, dampaknya di Juni-Juli-Agustus," tandasnya.

1 dari 1 halaman

Koordinasi

Wishnutama mengatakan, beberapa daerah wisata yang mengalami kerugian di antaranya Sulawesi Utara, Kepulauan Riau dan Bali. Menurunnya jumlah turis tak hanya dari China, beberapa negara lainnya pun ikut mengurungkan niat berlibur karena wabah virus corona.

Demi menambal kerugian sektor pariwisata, Whisnutama mendorong peningkatan jumlah turis domestik. Dia ingin masyarakat berwisata di negeri sendiri.

Tak hanya itu, dia juga ingin Kementerian Perhubungan untuk menambah frekuensi penerbangan internasional menuju Indonesia. Sebab, selama ini frekuensi penerbangan internasional menuju Indonesia masih sedikit jika dibandingkan dengan target kunjungan wisman.

Selain berkomunikasi dengan Kementerian Perhubungan, Whisnutama juga sudah telah menyampaikan rencana tersebut ke beberapa perusahaan maskapai. Salah satunya dengan Garuda Indonesia.

Begitu juga perusahaan maskapai lintas negara. Namun perlu ada pertemuan lanjutan untuk membahas lebih detil. (mdk/azz)

Baca juga:
Strategi Wishnutama Tambal Kerugian Sektor Pariwisata Akibat Virus Corona
Bandara Komodo Layani Penerbangan Internasional Mulai Juni 2020
Menhub Pastikan Bandara Komodo Bukan Dijual ke Asing, Berikut Penjelasannya
Sah, Kemenhub Serahkan Pengelolaan Bandara Komodo ke CASS
Cegah Virus Corona, Turis Asing Sempat ke China Ditolak Imigrasi Masuk Indonesia
Virus Corona dan Ketergantungan Indonesia ke China

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami