Dato Sri Tahir, konglomerat terkaya Indonesia yang dulu gagal jadi dokter

UANG | 16 Oktober 2018 11:33 Reporter : Tim Merdeka

Merdeka.com - Bercita-cita ingin menjadi dokter, Tahir muda gagal menuntaskan kuliah di fakultas kedokteran karena orang tuanya tak punya biaya. Momen itulah yang menjadi titik balik dalam hidupnya untuk terjun ke dunia usaha dan kini menjadi salah satu orang terkaya di Indonesia melalui Mayapada Group.

Dato Sri Tahir yang terlahir dengan nama Ang Tjoen Ming 66 tahun lalu, besar di Kota Surabaya. Ayahnya seorang pembuat becak. Setelah menamatkan SMA pada tahun 1971, Tahir pernah bercita-cita menjadi dokter. Sayang, keinginannya itu gagal diwujudkan karena ayahnya mengalami sakit keras hingga tidak sanggup lagi membiayai keluarga.

Tahir muda harus berhenti kuliah dan melanjutkan bisnis ayahnya di Surabaya. Namun pada umur 20 tahun, ia mendapat beasiswa di sekolah bisnis di Nanyang Technological University, Singapura. Dia kuliah sambil tiap bulan mencari produk di Singapura untuk dijual di Surabaya.

Dalam sebuah artikel di Huffington Post, Tahir mengaku tidak menyesal gagal menjadi dokter. "Saya tidak menyesal karena dulu saya gagal menjadi dokter. Tapi memang, saya tahu bahwa saya telah sangat diberkati," ujarnya.

"Walaupun saya gagal menjadi dokter karena tidak memiliki dana yang cukup untuk melanjutkan pendidikan, tetapi saya masih lebih beruntung dibandingkan dengan kondisi jutaan anak-anak lain di negara-negara berkembang di Afrika, Asia dan Pasifik Barat yang terpaksa masuk ke dalam lingkaran kemiskinan ekstrem ketika orangtua mereka sakit atau meninggal, dan jutaan lainnya menderita penyakit yang tidak dapat dicegahnya karena faktor lingkungan serta infrastruktur kesehatan yang kurang.

...Itulah mengapa saya telah memutuskan untuk menginvestasikan US $ 65 juta melalui Lembaga Donor Global untuk Memerangi AIDS, Tuberkulosis dan Malaria. Ketika Global Fund diciptakan satu dekade yang lalu, kejadian HIV meningkat di seluruh dunia, dan obat yang digunakan untuk mengobati virus masih mahal. Malaria membunuh satu juta orang setiap tahun, dengan kematian terkonsentrasi di antara wanita hamil dan anak-anak di bawah usia lima tahun. Lebih dari dua juta orang meninggal akibat TBC karena mereka tidak memiliki akses murah pengobatan murah kelas satu. Sejak itu, saya melihat Global Fund telah memainkan peran penting dalam penanggulangan penyebaran epidemi ini. Kini di seluruh dunia, kejadian HIV telah menurun sepertiga, dan biaya obat HIV telah menurun lebih dari 99 persen," papar Tahir.

Tahir muda kemudian sukses merintis usaha di bidang garmen, berkembang ke bidang perbankan, rumah sakit, dan pertokoan bebas pajak. Kini Tahir adalah seorang konglomerat yang menempati posisi 10 orang terkaya di Indonesia versi Forbes pada tahun 2017. Kekayaan Tahir tercatat mencapai angka USD 3,5 miliar per Desember 2017. Berdasarkan situs Forbes teraktual, kekayaan Tahir saat ini bisa mencapai US$ 3,8 miliar. Tahir juga dikenal gemar beramal melalui Tahir Foundation. Salah satunya mengirimkan bantuan makanan cepat saji dengan pesawat pribadinya ke Palu untuk para korban gempa.

Senin (15/10), Tahir mengaku telah menukarkan uang pribadinya sebanyak USD 93 juta dan 55 juta dolar Singapura atau sekitar Rp 2 triliun.

"Jadi kita berikan bukti pada Pak Gubernur bahwa minggu lalu total kita menggantikan USD 93 juta+ 55 juta dolar Singapura. Ini setara Rp 2 triliun lebih sedikit," ujar dia Gedung Bank Indonesia.

"Ini pribadi. Dipindahkan dari Singapura, termasuk dari konfidensial bank. (Baru sekarang?) tidak ada yang terlambat," ungkap dia.

Dia mengungkapkan, alasan utamanya menukarkan dolar ke rupiah dalam jumlah besar untuk membantu menstabilkan mata uang nasional ini. Terlebih saat ini rupiah telah menembus level Rp 15.200 per dolar AS. (mdk/bal)

Baca juga:
Konglomerat: Idealnya Rupiah itu berada di Rp 14.000 hingga Rp 15.000 per USD
Konglomerat Tahir ajak teman pengusaha bikin dana bencana Rp 2 triliun
Pendiri Mayapada Group tukarkan dolar hingga triliunan rupiah
Konglomerat Tahir: Ekonomi kita di bawah Pak Jokowi selama 4 tahun bagus sekali
Konglomerat Tahir ajak pengusaha bawa pulang Dolar yang disimpan di Singapura
Bos Mayapada Group jual dolar hingga Rp 2 triliun

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.