Daya saing tenaga kerja Indonesia terhambat sistem diklat

UANG | 29 April 2014 15:40 Reporter : Ahmad Baiquni

Merdeka.com - Ketua Komite Tetap Standardisasi Tenaga kerja Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Sumarna F Abdurrahman mengatakan daya saing tenaga kerja Indonesia masih rendah dibandingkan dengan negara tetangga di kawasan ASEAN. Hal ini terjadi lantaran tingkat produktivitas dan kompetensi tenaga kerja yang masih rendah.

"Bagaimana bisa mengarahkan tingkat kerja (produktivitas) yang tinggi pada saat kompetensinya rendah," ujar Sumarna di Bekasi, Jawa Barat, Selasa (29/4).

Sumarna menerangkan, selain produktivitas, rendahnya daya saing tenaga kerja Indonesia disebabkan tidak kuatnya sistem pendidikan dan pelatihan kerja. Padahal, sistem ini merupakan dasar untuk menciptakan daya saing.

"Ketidakkuatnya sistem ini ditunjukkan pada kurikulum pendidikan dan pelatihan kita belum ada yang berbasis kompetensi. Selain itu, setiap sektor belum ada lembaga sertifikasinya," kata Sumarna.

Selanjutnya, terang Sumarna, perlu ada pembenahan terhadap sistem ini. Hal ini untuk menunjang kuatnya posisi tenaga kerja Indonesia dalam menghadapi persaingan di tingkat ASEAN.

Selain itu, Sumarna juga menilai perlu ada pemerataan Lembaga Standarisasi Pekerja (LSP) di seluruh sektor ekonomi yang akan dibuka saat pasar bebas ASEAN nanti. Dia mengeluhkan, dari 119 LSP belum dapat mengcover 12 sektor prioritas ekonomi yang akan dibuka. 

"Misalnya bidang jasa, dari lima sektor jasa itu hanya ada  satu LSP yaitu di pariwisata. Sementara empat yang lain seperti kesehatan dan logistik belum ada, Kemudian di tujuh sektor berbasis industri, baru ada tiga LSP yaitu di perikanan, tekstil, lalu otomotif. Lainnya belum ada," ungkap dia.

Lebih lanjut, Sumarna menilai keberadaan LSP yang merata perlu segera didorong. Hal ini untuk memperbaiki produktivitas yang dapat mendukung tangguhnya daya saing tenaga kerja Indonesia.

"Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali," pungkas dia.

(mdk/bim)