Deretan Negara Rasakan Gejala Resesi Ekonomi, Termasuk Harga Makanan Naik Tajam

Deretan Negara Rasakan Gejala Resesi Ekonomi, Termasuk Harga Makanan Naik Tajam
krisis ekonomi. shutterstock
EKONOMI | 5 Oktober 2022 15:46 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Menteri Pertahanan, Prabowo Subianto angkat suara mengenai krisis yang dihadapi dunia. Menurutnya, krisis dunia ke depan bisa lebih parah atau disebut the perfect storm.

Benar saja, ekonomi dunia sedang dibayangi badai resesi. Saat ini banyak bank sentral di seluruh dunia secara bersamaan menaikkan suku bunga acuan sebagai respons tingginya inflasi.

Berbagai kalangan, termasuk Presiden Jokowi bahkan sempat mengatakan bahwa dunia sedang bergerak menuju resesi global pada tahun 2023 serta serangkaian krisis keuangan dan masalah ekonomi di negara berkembang mungkin akan membuat resesi semakin awet.

Sudah terbukti, beberapa negara bahkan telah merasakan gejala resesi ekonomi. Berikut rinciannya:

Inggris

Di Inggris, Bank of England telah mengatakan bahwa ekonomi Inggris kemungkinan sudah dalam resesi. Prospek Federal Reserve untuk pertumbuhan ekonomi telah mendekati pertumbuhan 1 persen pada tahun 2023.

Mata uang Inggris, poundsterling jatuh terhadap dolar AS sehingga saat ini bank inggris menaikan suku bunga. Ditambah harga obligasi jatuh, kekacauan di pasar hipotek hingga permasalahan dana pensiun semakin memperumit ekonomi Inggris.

2 dari 3 halaman

Amerika Serikat

Produk Domestik Bruto Amerika Serikat diturunkan 1,4 poin persentase menjadi 2,3 persen. Hal ini didasari oleh pertumbuhan ekonomi yang lebih lemah dari perkiraan pada paruh pertama tahun 2022.

Dengan penurunan daya beli rumah tangga dan pengetatan kebijakan moneter serta inflasi memaksa bank sentralnya, Federal Reserve telah menaikkan suku bunga secara cepat dan agresif sepanjang 2022 ini.

China

Ekonomi terbesar kedua di dunia itu sekarang diperkirakan tumbuh 3,3 persen pada 2022 dan terendah dalam empat dekade.

Akibatnya pertumbuhan ekonomi China melambat pada kuartal II-2022. Ini tumbuh 1,1 persentase lebih rendah dari perkiraan sebelumnya. Apalagi pandemi dan gelombang panas yang membuat gagal panen serta kinerja manufaktur yang menyusut.

Sehingga kenaikan produk domestik bruto (PDB) secara tahunan (year-on-year/yoy) pada triwulan kedua hanya tumbuh sebesar 0,4 persen.

3 dari 3 halaman

Sri Lanka

Sri Lanka menghadapi krisis ekonomi terburuk dalam beberapa tahun terakhir. Menurunnya nilai mata uang di negara itu telah mendorong naiknya harga bahan makanan pokok termasuk susu, yang penting untuk makanan pokok dan bisnis makanan. Negara kepulauan itu menghadapi pukulan ganda berupa kenaikan harga dan utang luar negeri yang tinggi.

Dihadapkan dengan krisis ekonomi dan energi yang akut yang dipicu karena kekurangan devisa, kekurangan bahan bakar. Ditambah dengan pandemi telah menurunkan pendapatan Sri Lanka yang memang fokus pada industri pariwisatanya semakin membuat Sri Lanka bangkrut.

 

Mesir 

Dengan rasio utang terhadap PDB sekitar 95 persen, Mesir telah mengalami salah satu arus keluar dana asing terbesar tahun ini dengan total sekitar USD 11 miliar. 

Mesir diperkirakan harus membayar USD 100 miliar dalam bentuk utang mata uang keras selama lima tahun ke depan, termasuk obligasi USD 3,3 miliar yang cukup besar, pada tahun 2024 yang kemungkinan 55 persen akan gagal terbayar.

Reporter Magang: Hana Tiara Hanifah

(mdk/idr)

Baca juga:
Prabowo: Krisis Dunia ke Depan Lebih Parah, Mereka Sebut Perfect Storm
Ada Ancaman Resesi, Investor Tahan Diri Tanam Modal Ke Sektor Hulu Migas
Bos Perusahaan di AS Sudah Siap Hadapi Resesi, Pertimbangkan Pangkas Tenaga Kerja
4 Tips Berinvestasi di Tengah Resesi ala Warren Buffett
Mau Investasi Tapi Ada Ancaman Resesi, Simak Tips Berikut Ini
Pemda Harus Ikut Cari Solusi Agar Terhindar dari Resesi

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Opini