Di Kenormalan Baru, INACA Sepakat Kapasitas Angkut Penumpang Pesawat Hanya 70 Persen

Di Kenormalan Baru, INACA Sepakat Kapasitas Angkut Penumpang Pesawat Hanya 70 Persen
UANG | 2 Juni 2020 20:37 Reporter : Anisyah Al Faqir

Merdeka.com - Industri penerbangan babak belur diterjang pandemi Covid-19. Penumpang pesawat rute domestik sejak Januari-Mei 2020 tinggal 14 persen. Rute penerbangan internasional pun tidak lebih baik. Dari pantauan rute internasional di Bandara Soekarno-Hatta (Cengkareng), Juanda (Surabaya) dan Kualanamu (Medan) menyisakan 35 persen penumpang.

"Secara ekonomi penumpang domestik ini dari Januari sampai Mei tinggal 14 persen," kata Staf Ahli Indonesia Nasional Air Carier Association (INACA), Darmadi, dalam Webinar Kementerian Perhubungan bertajuk 'Kolaborasi Merespon Dampak Pandemi Covid-19 dan Strategi Recovery pada Tatanan Kehidupan Normal Baru di Sektor Transportasi', Jakarta, Selasa (2/6).

Untuk diketahui, INACA terdiri 13 maskapai penerbangan. Di organisasi ini juga terdapat 21 charter dan 2 cargo. Namun kondisinya saat ini di antara 35 anggota INACA ada yang tengah mati suri.

Pelaku usaha sektor penerbangan ini berkomitmen turut serta menurunkan penyebaran Covid-19. INACA menyepakati jika penerbangan bisa kembali beroperasi seperti semula, hanya akan ada 70 persen penumpang dalam satu kali perjalanan.

"Dibagi dalam pre in dan post flight," kata dia.

Selain itu, sebelum penumpang melakukan penerbangan pada pembelian tiket online diperlukan bukti surat bebas Covid-19 yang dilakukan melalui tes rapid dan PCR. Namun, yang terpenting kata Darmadi, regulasi ini berlaku di semua bandara.

Selain itu, INACA juga mendapat saran khusus untuk penerbangan internasional. Tes Covid-19 dilakukan di bandara asal dan bandara tujuan karena keduanya bisa saja memiliki standar yang berbeda.

Dalam hal ini bandara pun akan banyak mengambil peran. Tidak boleh terjadi lagi penumpukan penumpang yang menimbulkan kerumunan.

Selama perjalanan pun protokol kesehatan akan diberlakukan bagi penumpang dan awak kabin. Di dalam pesawat juga peralatan masker, sarung tangan dipastikan disediakan oleh maskapai penerbangan. "Kru juga tidak mungkin keluar dari protokol Covid-19," imbuhnya.

1 dari 1 halaman

Prediksi Industri Penerbangan Terus Terpuruk

penerbangan terus terpuruk

Direktur Utama Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra, memprediksi industri penerbangan akan terus terpuruk. Penumpang akan turun drastis. Sehingga dalam menanggulangi ini perlu ada kerja sama dengan para pemangku kebijakan. Sebab dia menilai industri penerbangan akan kembali pulih selama 2-3 tahun.

"Kami mendapatkan konsensus, industri ini bisa recovery sebelum covid dalam masa 2 sampai 3 tahun," ungkap dia.

Irfan menambahkan, protokol kesehatan berupa jaga jarak fisik memang bukan fakta penularan virus. Bahkan dalam dokumen dari The International Air Transport Association (IATA) dan beberapa lembaga lainnya.

Namun, jika hal itu tetap menjadi keharusan dan penting Garuda Indonesia akan tetap mengikuti protokol kesehatan tersebut. "Tapi buat kami selama itu penting, Garuda tetap mempertahankan distancing di pesawat," kata dia.

Akibatnya, sektor bisnis dan ekonomi akan berpengaruh. Sehingga pihaknya perlu berdiskusi dan mengkomunikasikannya dengan Kementerian Perhubungan untuk memastikan industri tetap berjalan.

"Untuk memastikan industri ini punya nafas berkelanjutan, paling tidak tetap memperoleh keuntungan," kata Irfan mengakhiri.

(mdk/bim)

Baca juga:
Biaya Naik Pesawat Bakal Lebih Mahal dan Tak Semudah Sebelum Corona
KirimAja, Layanan Pengiriman Barang Milik Garuda Indonesia
Lion Air, Wings Air dan Batik Air Hentikan Sementara Penerbangan Mulai 5 Juni 2020
Kondisi Garuda Indonesia: Pendapatan Anjlok 90% & 70% Pesawat Dikandangkan
65 Persen Pengguna Garuda Indonesia Masih Wait and See untuk Lakukan Penerbangan
Kementerian BUMN Soal Garuda Indonesia PHK Pilot: Konsekuensi Bisnis
Maskapai Emirates Butuh 4 Tahun Kembali Layani Seluruh Jalur Penerbangan Usai Pandemi

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Curhat Siswa Lulusan Tanpa Ujian Nasional

5