Di Markas PBB, Wapres JK Soroti Anjloknya Harga Kopi Hingga 70 Persen

UANG | 26 September 2019 12:29 Reporter : Idris Rusadi Putra

Merdeka.com - Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla menyoroti turunnya harga biji kopi di pasaran dunia yang mencapai 70 persen sejak 1982. Salah satu penyebabnya adalah kelebihan pasokan produksi biji kopi dunia.

Ini disampaikan Wapres JK saat berbicara pada forum 'Aksi Bersama Mengatasi Krisis Harga Kopi dan Mencapai Produksi Kopi Berkelanjutan', di Markas Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), New York, Amerika Serikat (AS), Rabu pagi waktu setempat (25/9).

"Saya ingin menggarisbawahi dampak dari krisis harga kopi ini. Petani kecil adalah korban yang paling dirugikan. Petani kecil, bukan industri maupun konsumennya," ujar JK seperti dikutip dari laman Sekretariat Kabinet, Kamis (26/9).

Menurut Wapres, lebih dari 90 persen lahan kopi Indonesia dikelola oleh petani kecil. Karena itu, Indonesia sangat prihatin dengan krisis ini, saat keuntungan industri kopi besar dunia justru meningkat.

"Lebih dari 25 juta petani kecil kopi di seluruh dunia berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidup. Indonesia sendiri memiliki 1,8 juta petani kopi," ungkap dia.

Merosotnya harga dunia, ikut mengakibatkan menanam kopi tidak lagi menjadi sumber penghidupan yang diminati. Sebagian petani kopi bahkan beralih ke sektor lain.

Karena itu, sebagai sesama negara penghasil kopi, Wapres mengajak bersama-sama untuk membuat terobosan guna memperbaiki nasib produsen kopi di negara masing-masing. "Kita tidak bisa berdiam diri," tegas Wapres.

1 dari 1 halaman

Solusi Turunnya Harga Kopi

Dalam forum yang diinisiasi negara Kolombia ini, Wapres Jusuf Kalla memaparkan langkah-langkah yang menjadi usulan Indonesia dalam mengatasi kemerosotan harga kopi dunia.

Pertama, terus memperluas pasar kopi, dan mengendalikan jumlah pasokannya. Kedua, petani kecil harus ditingkatkan kemampuannya agar dapat menghasilkan kualitas kopi yang lebih baik dan bernilai tambah.

Ketiga, perlunya dibangun kemitraan antara industri dan petani kecil. Wapres menunjuk contoh industri kopi besar harus memberikan CSR (Corporarte Social Responsibility) untuk peningkatan kapasitan petani kecil.

Keempat, perlu upaya khusus untuk menjaga keseimbangan harga kopi bagi petani, industri, dan konsumen. "Diperlukan dukungan Internaional Coffee Organization (ICO) dalam hal ini," tegas JK. (mdk/idr)

Baca juga:
4 Produk Olahan Hasil Bumi Indonesia Tembus Pasar Global
Apakah Aman Bagi Anak-Anak untuk Mengonsumsi Kopi?
Survei HonestDocs: Tren Konsumsi dan Takaran Ideal untuk Minum Kopi
6 Pengganti Kopi yang Bisa Memberimu Suntikan Semangat di Pagi Hari
Semarakkan Sail Nias 2019, Kemendes PDTT Gelar Festival Kopi Nusantara
Melihat Pembuatan Kacamata dari Ampas Kopi di Ukraina

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.