DPR minta Dahlan lapor presiden untuk segera tutup Merpati

DPR minta Dahlan lapor presiden untuk segera tutup Merpati
Merpati Airlines. Merdeka.com/Arie Basuki
EKONOMI | 8 Maret 2014 16:42 Reporter : Nurul Julaikah

Merdeka.com - Maskapai Merpati Nusantara Airlines (MNA) hingga saat ini masih belum bisa keluar dari jurang masalah. Hutang perusahaan yang tembus Rp 7,3 triliun membuat operasional Merpati harus terhenti sampai sekarang.

Ketua Komisi VI DPR, Airlangga Hartanto menilai Merpati sangat sulit untuk disehatkan kembali. Dia meminta Dahlan mengurus ini secara serius dan bertanggung jawab atas semua kewajiban Merpati.

"Merpati sudah berat untuk beroperasi kembali, sebaiknya kementerian yang urus," ujar Ketua Komisi VI DPR, Airlangga Hartanto kepada merdeka.com, Sabtu (8/3).

Politisi Partai Golkar ini mengatakan pemegang saham yakni Menteri BUMN, Dahlan Iskan harus bertanggung jawab dalam penyelesaian karyawan dan kewajiban terhadap pihak ketiga. Pihak ketiga yang dimaksud oleh Airlangga adalah hutang avtur ke Pertamina.

"Iya kalau perusahaan sudah berhenti beroperasi bagaimana bisa mencoba mengajukan business plan baru dengan pihak ketiga tanpa adanya permodalan yang jelas," ungkapnya.

Sementara itu, anggota Komisi VI DPR, Hendrawan Supratikno menuding Dahlan Iskan tidak serius mencari solusi menangani persoalan Merpati. Bahkan, pemerintah seolah-olah membiarkan Merpati mati secara perlahan. "Serba sulit. Kementerian BUMN tidak serius mencari solusi. Sepertinya merpati dibiarkan merayap atau meratap sampai mati," Kata Hendrawan.

Politisi PDI-P ini mengatakan jika pemerintah tidak serius menangani Merpati, sebaiknya dilaporkan ke Presiden untuk ditutup. Namun, pihak kompetitor yang mengincar aset-aset Merpati akan senang jika maskapai penerbangan tersebut ditutup.

"Kalau pemerintah tidak serius, sebaiknya Menteri BUMN lapor presiden supaya ditutup. Daripada enggak jelas begini. Argo biaya jalan terus. Yang jelas, akan ada pihak-pihak yang gembira bila Merpati binasa," jelasnya.

Kompetitor yang dimaksud oleh Hendrawan ini adalah Sriwijaya air, Susi air, wings air. Ketiga maskapai tersebut tentunya mengincar aset-aset Merpati yang masih berharga, termasuk SDM.

(mdk/idr)

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami