DPR sarankan agar program tol laut Jokowi diserahkan ke swasta

UANG | 11 Agustus 2017 16:53 Reporter : Idris Rusadi Putra

Merdeka.com - Anggota Komisi VI DPR, Bambang Haryo menyarankan agar program tol laut Jokowi diserahkan kepada swasta. Pengelolaan program ini dinilai akan lebih optimal jika diserahkan kepada pelayaran swasta yang sudah lebih dahulu melayari pulau-pulau di Indonesia.

"Biaya subsidi tol laut sangat besar, tetapi tidak efektif menekan harga di daerah-daerah tujuan tol laut, hanya buang-buang dana APBN saja. Padahal pelayaran swasta sudah lebih dulu melayari daerah-daerah di seluruh Indonesia dengan 14.000 kapal, sedangkan kapal tol laut baru 6 kapal. Artinya, tanpa tol laut pun, distribusi barang sudah jalan," kata Bambang di Jakarta, Jumat (11/8).

Dia mencontohkan, di Papua yang menjadi daerah tujuan tol laut. Sebelum program ini dijalankan, harga beras di Papua pada waktu itu sudah Rp 13.000 per kilogram. "Saat kami berkunjung ke sana, sekarang setelah ada tol laut ke Papua, harga beras malah lebih mahal. Kenapa bisa begitu? Ini membuktikan tol laut yang disubsidi tidak berdampak ekonomi, tidak bisa menekan disparitas harga," tuturnya.

Menurut Bambang, tidak adanya dampak pada penurunan harga barang karena tol laut tidak dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang seharusnya bertanggung jawab dalam melakukan stabilisasi harga barang seperti Bulog dan petani. Justru yang memanfaatkan program ini adalah pedagang yang menyesuaikan harga dengan mekanisme pasar.

Para pedagang katanya, tidak berkomitmen berdagang sesuai regulasi, yakni tidak ada regulasi harga, regulasi distribusi, regulasi kualitas barang. Akhirnya harga barang-barang tetap tinggi.

Bambang menambahkan, meski konsep dan tujuan program ini bagus, untuk menekan disparitas harga tidak cukup dengan memberikan subsidi terhadap kapal pengangkut.

"Transportasi laut dikatakan sebagai penyebab disparitas harga selama ini itu keliru, karena transportasi laut hanya berkontribusi 5 persen terhadap harga barang. Sisanya yang paling banyak berkontribusi adalah biaya distribusi ke pedalaman. Selama ini distribusi ke pedalaman menggunakan pesawat-pesawat perintis. Inilah yang membuat mahal," tuturnya.

Bambang menyarankan, untuk menekan disparitas harga di pedalaman Indonesia, bukan hanya tol yang diperhatikan. Di Indonesia, panjang jalan darat keseluruhan mencapai 530.000 km, dan 60 persen-70 persen kondisinya rusak dan susah dilalui kendaraan. Sedangkan jalan tol totalnya hanya 1.000 km. "Jika jalanan di Indonesia diperbaiki, jalur darat akan terbantu sehingga distribusi barang berjalan lancar. Dengan demikian dapat menekan disparitas harga."

Dalam pandangannya, pemerintah sebaiknya menumbuhkan perekonomian daerah setempat, sehingga bisa memberikan barang bawaan balik bagi kapal-kapal pengangkut barang saat ke pedalaman. "Pemerintah tak perlu membuang-buang anggaran dengan tol laut, berikan saja kepada swasta yang selama ini sudah menjalaninya," ucap Bambang.

Ketua Komisi Tetap Sarana dan Prasarana Perhubungan Kadin Indonesia, Asmary Herry berpendapat sama. Menurutnya, program tol laut yang sudah berjalan 2 tahun belum dapat menekan disparitas harga. Harga barang bukan hanya ditentukan ongkos freight (pengapalan), angkutan laut hanya salah satu penentu harga.

"Memang biaya pengapalan sudah turun dengan tol laut, tetapi apakah harga barang di daerah ikutan turun? Belum tentu," ucapnya dengan tanda tanya.

Berdasarkan data salah satu perusahaan pelayaran nasional, ongkos freight Jakarta-Papua, misalnya, pada 2 tahun lalu Rp 10 juta. Setelah ada tol laut menjadi Rp 5 juta. "Apakah harga semen, misalnya, di Papua ikut turun sesuai penurunan ongkos freight?," kata Asmary.

Dia menambahkan, tol laut dengan subsidi dari pemerintah dengan sistem sekarang ini biayanya sangat besar, bisa dihemat dengan sinergi dengan swasta tentunya. "Soal mekanisme penetapan swasta yang sudah lebih dulu melayari rute tersebut ya diserahkan ke pemerintah," tutur Asmary. (mdk/idr)

Baca juga:
Menhub Budi tambah 6 trayek tol laut, mayoritas di Indonesia Timur
Di depan alumni PTN, Menhub sebut tol laut Jokowi belum optimal
Indonesia gandeng Jerman bangun transportasi maritim
Tol udara akan dimulai dari Kalimantan Utara dan Papua
2018, Luhut target tol laut bisa turunkan 50 persen harga barang

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.