DPR Soal Belanja Pegawai Balitbang Kementan Rp 498,62 M: Di mana Sense of Crisis-nya

DPR Soal Belanja Pegawai Balitbang Kementan Rp 498,62 M: Di mana Sense of Crisis-nya
UANG | 14 September 2020 13:18 Reporter : Sulaeman

Merdeka.com - Ketua Komisi IV DPR RI Sudin mengkritisi rencana kerja anggaran (RKA) Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Kementerian Pertanian (Kementan) Tahun 2021 untuk belanja pegawai yang mencapai Rp 498,62 miliar. Nilai itu setara 29,21 persen dari total anggaran Rp 1,7 triliun.

Dia mempertanyakan sense of crisis dari Balitbangtan di masa kedaruratan kesehatan ini. Selain itu, dia juga mengusulkan agar Pemerintah lebih memilih menggunakan bibit asal luar negeri dibandingkan hasil Balitbangtan.

"Kita melihat RAK di Litbang ini pegawainya saja gajinya hampir setengah triliun. Belum belanja tetap, dan lain-lainnya. Saya berpikir di mana sence of crisisnya," tegas dia dalam rapat kerja bersama Komisi IV DPR RI di Komplek Parlemen, Senin (14/9).

Lanjutnya, dia menilai dengan anggaran yang cukup besar, bibit yang dihasilkan Banglitbangtan secara kualitas dan kuantitas dianggap masih belum bisa bersaing. Pun, biaya pengembangan benih juga dianggap masih belum kompetitif.

"Dengan anggaran Rp 1,7 triliun. Oh saya pernah menghasilkan bibit cabai, tomat, terus ayam apalah itu. Kalau saya jadi pemerintah, Rp 1,7 triliun mendingan saya beli bibit dari luar saja nggak usah ada Litbang jelas lebih baik. Ga usah ada 30 item tapi sedikit," terangnya.

Oleh karena itu, dia meminta Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo agar mampu menekan anggaran belanja pegawai Balitbangtan tahun 2021. Selain itu,
Mentan juga diingatkan untuk lebih mengarahkan pengembangan benih oleh Balitabangtan terhadap dua fokus komoditas pangan yakni beras dan jagung dalam rangka mengurangi Ketergantungan akan impor.

"Pak Menteri (Syahrul Yasin Limpo) saya mengatakan kepada Kepala Litbang, cukup dua fokus saja. Yakni padi dan jagung. Maka, kembangkan secara besar, secara baik, secara mutu yang terbaik," ujar dia.

"Jadi kami tidak berharap beli benih jagung dari pengusaha. Yang mana pengusahanya? Asing! Saya nggak berharap seperti itu, berharapnya inovasi," imbuh dia. (mdk/azz)

Baca juga:
Cegah Krisis Pangan, Kementan Dapat DAK Rp 1,64 Triliun di 2021
Tanahnya Miliki Keunggulan, Ini 5 Fakta Sumut Jadi Pusat 'Food Estate' di Indonesia
Filipina Apresiasi Kemajuan Sektor Pertanian RI
Pemerintah Rencana Tambah Anggaran Subsidi Pupuk Rp3,14 Triliun
Indonesia Butuh Banyak Wirausaha Pertanian Wujudkan Swasembada Pangan
Generasi Muda Diajak Tekuni Bisnis Pertanian, Ini Sederet Keuntungannya

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami