Ekonom: Sebutan Menteri Pencetak Utang Singgung Menkeu Sejak Era Soekarno

UANG | 2 Februari 2019 12:30 Reporter : Anggun P. Situmorang

Merdeka.com - Pernyataan Calon Presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto yang mengkritisi pemerintahan Jokowi-JK kerap menimbulkan kontroversial. Baru-baru ini, dia menyindir agar Menteri Keuangan berganti nama menjadi Menteri Pencetak Utang.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira mengatakan sebutan Menteri Pencetak Utang oleh Prabowo bukan hanya menyinggung Menteri Keuangan Sri Mulyani, tetapi seluruh Menteri Keuangan sejak era Soekarno. Sebab, utang mulai ada sejak Soekarno menjadi presiden.

"Tudingannya terlalu personal. Saya menolak keras kritik yang dialamatkan ke personal. Saya kira kita harus fair dari era Soekarno kita sudah punya utang ke kreditur internasional. Menkeu era Soeharto juga bertugas cari pinjaman untuk dana pembangunan," ujar Bhima kepada merdeka.com, Jakarta, Sabtu (2/2).

Perbedaan Sri Mulyani dengan Menteri Keuangan periode sebelumnya, kata Bhima adalah, saat ini lebih banyak menerbitkan surat utang dengan bunga yang lebih tinggi atau sekitar 8 persen untuk tenor 10 tahun.

"Sementara era Soeharto hingga SBY didominasi oleh utang dalam bentuk pinjaman atau loan baik bilateral dan multilateral dengan bunga relatif murah. kritiknya harusnya dialamatkan kesana. Kalau tuduhan menteri pencetak utang artinya kubu 02 juga menghakimi menkeu dari zaman orde lama sampai SBY," jelasnya.

Minta Sri Mulyani Tak Baper

Bhima melanjutkan, seharusnya Sri Mulyani tak perlu terbawa perasaan menanggapi pernyataan Prabowo. Seperti diketahui, Sri Mulyani baru saja mengunggah sebuah pernyataan balasan untuk menjawab tuduhan Prabowo. Puisi tersebut diberi judul 'Kala Kamu Menuduh Aku Menteri Pencetak Utang'.

"Soal puisi Sri Mulyani saya kira tidak perlu ditanggapi serius. Bu menkeu jangan baperan," jelas Bhima.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam akun instagramnya mengunggah sebuah puisi berjudul 'Kala Kamu Menuduh Aku Menteri Pencetak Utang'. Puisi ini merupakan balasan atas tudingan Calon Presiden 02 Prabowo Subianto yang menyebut Menteri Keuangan diganti Menteri Pencetak Utang.

Dalam puisinya, Sri Mulyani membeberkan satu per satu pembangunan infrastruktur yang dilakukan oleh pemerintah. Dia juga menjelaskan mengenai peningkatan kesejahteraan dan upaya penurunan kemiskinan di seluruh pelosok negeri.

Merdeka.com mencoba mengutip kembali puisi tersebut. Berikut ini isi lengkapnya:

Kala kamu menuduh aku Menteri Pencetak Utang,

Kami menyelesaikan ribuan kilometer jalan raya, toll, jembatan untuk rakyat. Untuk kesejahteraan kami menyelesaikan puluhan embung dan air bersih, bagi jutaan saudara kita yang kekeringan. Puluhan ribu rumah, untuk mereka yang memerlukan tempat berteduh.

Kala kamu menuduh aku Menteri Pencetak Utang,

Kami bekerja menyediakan subsidi jutaan sambungan listrik untuk rakyat untuk menerangi kehidupan, hingga pelosok kami terus bekerja meringankan beban hidup 10 juta keluarga miskin, menyediakan bantuan pangan 15 juta keluarga miskin, menyekolahkan 20 Juta anak miskin untuk tetap dapat belajar menjadi pintar.

Kala kamu menuduh aku Menteri Pencetak Utang,

Kami bekerja siang malam menyediakan jaminan, agar 96,8 juta rakyat terlindungi dan tetap sehat. Merawat ratusan ribu sekolah dan madrasah, agar mampu memberi bekal ilmu dan taqwa, bagi puluhan juta anak-anak kita untuk membangun masa depannya Kami tak pernah berhenti, agar 472.000 mahasiswa menerima beasiswa untuk menjadi pemimpin masa depan.

20.000 generasi muda dan dosen berkesempatan belajar di universitas terkemuka dunia untuk jadi pemimpin harapan bangsa. Puluhan juta petani mendapat subsidi pupuk, benih dan alat pertanian, 170.400 hektar sawah beririgasi untuk petani jutaan usaha kecil mikro memiliki akses modal yang murah jutaan penumpang kereta dan kapal yang menikmati subsidi tiket jutaan keluarga menikmati bahan bakar murah, jutaan pegawai negeri, guru, prajurit, polisi, dokter, bidan, dosen hingga peneliti mendapat gaji dan tunjangan untuk mengabdi negeri.

Terus, kami terus bekerja, agar 74.953 desa mampu membangun, membasmi kemiskinan. 8.212 kelurahan terbantu untuk melayani rakyat kebih baik. Triliunan rupiah tersedia membantu saudara kita yang terkena bencana membangun kembali kehidupannya. Dan masih banyak lagi yang aku mau ceritakan padamu agar engkau Tidak LUPA, karena itu adalah cerita tentang kita MEMBANGUN INDONESIA.

Aku tak ingin engkau lupa itu, sama seperti aku tak ingin engkau lupa akan sejarah negeri kita.

Aku perempuan yang memenuhi panggilan Ibu Pertiwi.

Aku perempuan,

Aku tidak surut demi kecintaanku kepada negeri,

Untuk memberikan yang terbaik bagi Indonesia,

Aku dan tujuh puluh enam ribu jajaran Kemenkeu, adalah KAMI.

KAMI TIDAK PERNAH LELAH MENCINTAI DAN MEMBANGUN INDONESIA.

Bagaimana engkau?

#KemenkeuProfesional

Baca juga:
Sindir Prabowo, Ma'ruf Amin Sebut Fraksi Gerindra di DPR Ikut Setujui Utang
Soal Menteri Pencetak Utang, Sri Mulyani Balas Prabowo Lewat Puisi
Jumlah Investor Suku Bunga SBR005 di Dominasi Kaum Milenial
Kemenkeu Tawarkan Sukuk Tabungan Seri ST-003, Penawaran Minimum Rp 1 Juta
Menko Luhut Sindir Balik Prabowo Soal Menteri Pencetak Utang
Menko Luhut: Utang Indonesia Dilakukan Untuk Hal Produktif
BPN Sebut Utang Negara Meroket Tetapi Tidak Jelas untuk Apa

(mdk/azz)