Ekonomi Indonesia Diprediksi Akan Lebih Baik Dibanding Negara ASEAN Lainnya

UANG | 20 Juni 2019 16:33 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Chief Market Strategist, Southeast Asia Investment Services and Product Solution Group HSBC Private Bank, James Cheo memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia akan jauh lebih baik dibandingkan dengan negara lainnya di Asia yang lebih tergantung pada ekspor. Menurutnya, konsumsi swasta Indonesia tetap tangguh dalam beberapa bulan terakhir dalam mendorong perekonomian.

Katanya, sentimen bisnis domestik bahkan ikut membaik. Dengan adanya kepastian hasil Pemilu, reformasi ekonomi dengan fokus pada belanja infrastruktur bisa dipercepat.

"Kami memperkirakan PDB Indonesia akan stabil dan tumbuh sebesar 5,0 persen pada 2019 dan 2020. Kami berharap ekonomi Indonesia dapat diperkuat oleh konsumen dan belanja infrastruktur yang difokuskan," terangnya di Jakarta, Kamis (20/6).

Pihaknya berharap Bank Indonesia (BI) akan menerapkan kebijakan siklus pelonggaran di paruh kedua tahun 2019, yakni dengan potongan 75 basis poin di sisa tahun ini dan 50 basis poin di tahun 2020.

"Mengingat situasi luar yang semakin tidak pasti, kebijakan ini akan menjadi semakin terbatas dibanding pada masa lalu. Jadi kami berharap bahwa dolar Amerika Serikat bertengger di Rp 14.600 pada akhir tahun 2019," ucapnya.

Sementara itu, HSBC Private Banking memperkirakan pertumbuhan PDB global akan sedikit melambat menjadi 2,4 persen pada 2019 dan 2020. Itu dengan ekonomi Amerika Serikat (AS) dan China yang berhasil mempertahankan pertumbuhan yang layak, yakni masing-masing sebesar 2,4 persen dan 6,6 persen pada 2019.

Managing Director Chief Market, Strategist Asia HSBC Private Banking Cheuk Wan Fan mengatakan, pada paruh kedua 2019, ekuitas AS dan Asia menjadi lebih menarik. Asia di sini ialah China, Indonesia, India, dan Singapura.

"Preferensi kami terhadap ekuitas AS dan Asia didukung prospek pertumbuhan ekonomi yang beragam. Kami lebih memilih kredit AS dan Asia berdasarkan penilaian," ujarnya.

Untuk para investor, Fan menyarankan agar menghindari konsentrasi berlebih melalui diversifikasi global dan manajemen aktif. "Para investor juga bisa mempertimbangkan pengelolaan risiko portfolio melalui alokasi emas dan investasi alternatif lainnya. Serta penempatan portfolio multi-aset yang terdiversifikasi dengan baik," kata dia.

Reporter: Bawono Yadika

Sumber: Liputan6.com

Baca juga:
Perang Dagang Hambat Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Triwulan II
Bos BI: Ketegangan Perang Dagang Perlambat Pertumbuhan Ekonomi Sejumlah Negara
Jokowi Akui Kebijakan Investasi dan Ekspor Belum Berpengaruh ke Ekonomi RI
Bos Bappenas: Regulasi Kaku & Institusi Lemah Hambat Laju Perekonomian Indonesia
Konektivitas & Kapasitas Jadi Kunci Negara ASEAN Bisa Menuju Era Ekonomi Baru
Skenario Buruk Dampak Perang Dagang Terhadap Negara ASEAN, Termasuk Indonesia

(mdk/idr)