Ekonomi RI Meningkat Jika Perempuan Miliki Kesempatan Kerja yang Sama

Ekonomi RI Meningkat Jika Perempuan Miliki Kesempatan Kerja yang Sama
Ilustrasi wawancara kerja. ©2014 Merdeka.com/shutterstock.com/Odua Images
UANG | 30 Maret 2021 18:33 Reporter : Dwi Aditya Putra

Merdeka.com - Pelibatan perempuan dalam ekonomi berpotensi meningkatkan kesejahteraan negara. Menurut Studi McKinsey Global Institut, jika perempuan memiliki kesempatan yang sama dengan laki-laki dalam perekonomian, maka pada 2025, PDB global dapat meningkat sebesar USD28 triliun atau meningkat sekitar sepertiganya.

Direktur Executive IBCWE, Maya Juwita menyatakan, salah satu upaya untuk melibatkan perempuan dalam perekonomian adalah dengan memberikan kesempatan bekerja kepada perempuan. Data kesetaraan gender di Indonesia melansir dari KPPA, perempuan itu 30 persen kemungkinannya lebih rendah untuk bekerja dibandingkan laki-laki.

Hal tersebut disebabkan karena tanggung jawab domestik masih dibebankan kepada perempuan. Kemudian untuk Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) perempuan Indonesia hanya 53.13 persen sementara laki-laki berada di angka 82.41 persen.

"Angka ini kalau dibandingkan (persentase laki-laki dan perempuan), bisa dibilang masih ada potensi 30 persen sebagai pembayar pajak. Jadi tingkat ekonomi negara juga akan naik apabila perempuan bisa kita berdayakan lebih tinggi lagi," ujarnya dalam acara Amartha Impact Talk Vol.7 yang mengangkat tema Investing in Women: Mainstreaming Women Participation in The Economy pada Selasa (30/3).

Selain itu, untuk mendobrak stigma yang membatasi perempuan dalam beraktivitas dan berdaya dalam kehidupan sehari-hari harus ditafsirkan dengan benar terlebih dahulu.

Penulis dan aktivis kesetaraan gender, Kalis Mardiasah mengatakan, dibutuhkan adanya edukasi kesetaraan gender dari lingkungan yang terkecil, yaitu keluarga sehingga dapat menyelesaikan persoalan mitos-mitos perempuan yang ada dalam budaya masyarakat saat ini.

Dalam Islam, ayat-ayat dimaksudkan untuk melindungi perempuan, bukan mendiskriminasi dan mendomestifikasi perempuan. Saat ini, perlindungan tersebut perlu terus didorong dalam wujud dalam penegak hukum dan undang-undang, dan beragam kampanye kesetaraan gender.

"Realitas yang kita punya adalah ternyata tenaga kerja perempuan jumlahnya meningkat hampir 50 juta orang, namun tidak menempati tingkat pekerjaan yang setara dengan laki-laki sehingga menyebabkan adanya gender gap. Perlu ada gerakan di level terkecil seperti desa bahwa perempuan bisa menjadi misalnya Ibu RT, Ibu RW, atau memimpin sebagai kepala desa," ujarnya.

Baca Selanjutnya: Selanjutnya...

Halaman

(mdk/bim)

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami