ESDM dorong gasifikasi batu bara tekan impor elpiji

UANG | 30 Mei 2018 17:42 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan mengatakan pihaknya akan berupaya untuk mengurangi impor Liquified Petroleum Gas (LPG). Sebab, mayoritas pasokan LPG berasal dari luar negeri, dari sekitar 6,7 juta ton konsumsi LPG nasional, 5 juta ton dipasok dari impor.

Untuk itu, ESDM akan mendorong peningkatan nilai tambah batu bara, dengan mengonversi menjadi gas. Sehingga peran LPG dengan diolah menjadi gas bisa dikurangi.

kita impor LPG kalau bisa diubah jadi LPG harus ada yang diubah. Kalau bisa hilang impornya, jadi perusahaan batu bara tidak lagi gali jual. Yang harus didorong semua perusahaan tambang mendorong coal to liquid, coal to gas," kata Jonan, saat rapat dengan Komisi VII DPR, di Gedung DPR, Rabu (30/5)

Jonan mengungkapkan, PT Pertamina (Persero) telah didorong untuk bekerja sama dengan perusahaan batu bara, untuk menerapkan gasifikasi batu bara. Dia pun siap mempermudah perizinan jika ada investor yang minat meningkatkan nilai tambah batu bara tersebut.

"Kami mendorong Pertamina kalau mau bekerja sama dengan perusahaan batu bara membuat coal to gas, kalau mau coal to gas, kalau izin si surat selembar saja saya tanda tangan," tuturnya.

Kementerian ESDM melalui Badan Litbang ESDM mengaplikasikan dan mengusahakan clean coal technology dengan konsep coal to gas, dengan produk Teknologi Gasifikasi Mini Batu bara, teknologi gasifikasi untuk pembangkit listrik skala kecil (1MW) dan teknologi Underground Coal Gasification, serta pengembangan konversi batubara ke gas antara lain untuk Dimetil Eter (DME).

Reporter: Pebrianto eko Wicaksono

Sumber: Liputan6.com

Baca juga:
Jonan: Masih ada wilayah belum nikmati paket perdana elpiji 3 kg
Juni 2018, harga BBM Shell naik
Kementerian ESDM bentuk posko pengaman pasokan BBM, elpiji dan listrik selama Ramadan
ESDM persilakan harga BBM naik asal besaran tak lebih dari 10 persen
Total ajukan kenaikan harga BBM per 1 Juni 2018
Rupiah melemah dinilai akibat besarnya impor BBM di Tanah Air

(mdk/azz)