ESDM Tetapkan Harga Biodiesel Oktober 2019 Naik Menjadi Rp7.358 per Liter

UANG | 26 September 2019 16:30 Reporter : Harwanto Bimo Pratomo

Merdeka.com - Direktorat Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah menetapkan besaran Harga Indeks Pasar Bahan Bakar Nabati (HIP BBN) Oktober 2019. Di mana, untuk biodiesel sebesar Rp7.358/liter dan bioetanol Rp10.273/liter.

HIP BBN tersebut untuk dipergunakan dalam pelaksanaan mandatory B20 dan berlaku untuk pencampuran minyak solar baik jenis bahan bakar minyak (BBM) tertentu maupun jenis BBM umum.

"Ketetapan ini mulai efektif berlaku sejak 1 Oktober 2019 sesuai yang tertera pada Surat Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Nomor 2765/12/DJE/2019," ujar Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Agung Pribadi seperti dikutip dari Antara di Jakarta, Kamis (26/9).

Agung menambahkan, HIP BBN Biodiesel untuk Oktober 2019 ini meningkat Rp399/liter dari bulan sebelumnya yang sebesar Rp6.929/liter. Kenaikan ini dilatarbelakangi oleh naiknya harga rata-rata crude palm oil (CPO) Kharisma Pemasaran Bersama (KPB) periode 15 Agustus hingga 14 September 2019 yang mencapai Rp7.038/kg.

Besaran harga HIP BBN untuk jenis Biodiesel tersebut dihitung menggunakan formula HIP = (Rata-rata CPO KPB + 100 USD/ton) x 870 Kg/m3 + Ongkos Angkut. "Besaran ongkos angkut pada formula perhitungan harga biodiesel mengikuti ketentuan dalam Keputusan Menteri ESDM No. 148 K/12/DJE/2019," jelas Agung.

Kenaikan harga serupa terjadi pada Bioetanol setelah dihitung berdasarkan formula yang ditetapkan, yaitu (Rata-rata tetes tebu KPB periode 3 bulan x 4,125 Kg/L) + USD 0,25/Liter, sehingga didapatkan Rp10.273/liter untuk HIP BBN bulan Oktober 2019.

"Konversi nilai kurs menggunakan referensi rata-rata kurs tengah Bank Indonesia periode 15 Agustus hingga 14 September 2019," ungkap Agung.

Sebagai informasi, HIP BBN yang mana termasuk harga biodiesel ditetapkan setiap bulan dan dilakukan evaluasi paling sedikit 6 bulan sekali oleh Direktur Jenderal EBTKE. (mdk/bim)

Baca juga:
Uji Coba Penerapan B30 Berjalan Mulus, Produsen Diklaim Tak Keberatan
Indonesia Disebut Bisa Hemat Rp210,46 Triliun Melalui B50
Menko Darmin Beberkan Alasan Penerapan B20 Belum 100 Persen
ESDM: Uji Coba B30 Sejauh Ini Belum Menemukan Masalah
Eropa Tuding Industri Kelapa Sawit Indonesia Dapat Subsidi Ilegal dari Pemerintah
Uni Eropa: Kami Tidak Menyangkal Kehebatan Kelapa Sawit Indonesia
Investasi Capai USD 20 Miliar, Implementasi B100 Masih Jauh

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.