Faisal Basri: 74 Tahun Merdeka, Indonesia Masih Bergantung pada Batubara dan Sawit

UANG | 14 Agustus 2019 16:46 Reporter : Anggun P. Situmorang

Merdeka.com - Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Faisal Basri mengatakan, setelah 74 merdeka pertumbuhan ekonomi Indonesia masih bergantung pada sektor non migas seperti batubara dan kelapa sawit. Hal ini yang kemudian membuat pertumbuhan ekonomi lambat dari tahun ke tahun.

"Dari dua jenis barang non migas, batubara dan sawit sudah 74 merdeka masih bergantung pada itu. Tidak mengalami transformasi," ujar Faisal saat memberi paparan dalam diskusi di Kedai Tempo, Jakarta, Rabu (14/8).

Faisal mengatakan, neraca perdagangan pun turut kena imbas karena pemerintah tak mampu mencari sektor lain untuk menggerakkan ekspor. Padahal ekspor menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi disamping investasi dan konsumsi.

"Tahun lalu merchandise perdagangan barang mengalami defisit USD 0,4 miliar. Defisit itu barang dijual dibanding yang di beli banyakan belinya. Ini ada non migas surplus USD 11,2 miliar. Tapi migas minus USD 11,6 miliar. Jadi surplus mau dari mana, cuma batubara dan sawit cuma itu," jelasnya.

Faisal menambahkan, pemerintah harus mencari cara lain agar defisit tak terus terjadi. Termasuk mengkaji kembali sektor-sektor penting yang masih bisa digenjot seperti industri tekstil dan produk tekstil (TPT), perikanan dan sektor energi.

"TPT menyumbang pendapatan USD 3 miliar. Tapi sekarang hampir sama dengan perdagangan Ikan. Bulan juli Bank Dunia mengajak Indonesia melihat ocean. Ini bisa dimanfaatkam karena tanpa bikin investasi baru lagi jadi bisa mendatangkan pendapatan," jelasnya.

Baca juga:
Menko Luhut Soal Dampak Perang Dagang: Pertumbuhan Kita 5 Persen Sudah Hebat Sekali
Strategi Rizal Ramli Tekan Krisis Ekonomi di Indonesia
Bos Bappenas Ungkap Alasan Belanja Negara Tak Pengaruhi Pertumbuhan Ekonomi
Rizal Ramli Ramal Pertumbuhan Ekonomi 2019 Hanya 4,5 Persen
Pemerintah Kembangkan Hortikultura Genjot Ekspor dan Ekonomi Daerah
Di HUT BEI ke-42, Bos OJK Sebut Ekonomi Indonesia Masih Positif

(mdk/azz)