Faisal Basri Bantah Indonesia Tak Ramah Investasi Asing

UANG | 14 Agustus 2019 14:47 Reporter : Anggun P. Situmorang

Merdeka.com - Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Faisal Basri, membantah Indonesia salah satu negara tak ramah investasi asing. Menurutnya, Indonesia masih merupakan negara yang paling banyak diminati negara lain untuk menerapkan dananya.

"Dibandingkan ASEAN, levelnya kita tertinggi soal jumlah investasi. Kita cuma kalah dari China, China dibandingkan siapapun dia yang tertinggi. Intinya Indonesia masih keren soal investasi asing," ujar Faisal di Kedai Tempo, Jakarta, Selasa (14/8).

Faisal mengatakan, Presiden Jokowi seharusnya tidak mengkambinghitamkan investasi asing menjadi penyebab ekonomi Indonesia melambat. Sebab, Indonesia nomor tiga negara paling atraktif di Asia dalam hal menggaet investasi asing masuk.

"Persoalannya bukan investasi, Pak Jokowi. Investasi asing dibilang lambat, padahal nomor 3 paling atraktif di Asia. Dari hasil riset 48,1 persen investor mau tempatkan investasi di Indonesia. 31 persen akan tetap di Indonesia tapi tak nambah investasi," jelasnya.

Masalah sebenarnya, kata Faisal adalah banyaknya investasi yang masuk ke Indonesia tidak memberi pendapatan yang setimpal kepada negara. "China investasinya di Indonesia itu kecil. Dia paling banyak ke Singapura, AS. Tapi memang meningkat luar biasa, tuh China juga datang ke kita. Jadi apa masalahnya? Masalahnya adalah investasi yang banyak itu hasilnya sedikit," tandasnya.

Sebelumnya, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Thomas Trikasih Lembong, mengatakan Indonesia masih tergolong negara anti modal asing. Bahkan, penelitian terbaru yang dilakukan oleh organisasi untuk kerjasama dan pembangunan ekonomi atau Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) menempatkan Indonesia diurutan 3 terbawah negara ramah investasi asing.

"Beberapa minggu lalu ada study oleh OECD, dia mengurut 60 negara di dunia dan Indonesia adalah paling rendah nomor 3 dari bawah. Negara paling tertutup terhadap investasi asing atau investasi internasional," ujar Lembong saat memberi paparan di Hotel Borobudur, Jakarta, Jumat (9/8).

Lembong mengakui, dibanding negara-negara tetangga Indonesia memang masih tertolong tertutup. Padahal, kata dia, arus modal asing sangat dibutuhkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

Baca juga:
Raup Cuan Perang Dagang, Pemerintah Siap Gelar Karpet Merah Pabrik China Masuk RI
Mendag: Presiden Minta Paviliun Indonesia di Pameran Dunia Lebih Futuristik
Anak Donald Trump Ungkap Alasan Bangun Resort Mewah di Lido
BI: Investasi Jadi Kendala Utama Industri Manufaktur Indonesia
Biaya Investasi PLN Membengkak Jika Kompensasi Pemadaman Listrik Jadi 300 Persen
Investasi Jadi Andalan Pemerintah Hadapi Gejolak Ekonomi Global

(mdk/azz)