Genjot Penyerapan Tenaga Kerja, DPR Kawal Program Pembangunan Industri RI

Genjot Penyerapan Tenaga Kerja, DPR Kawal Program Pembangunan Industri RI
UANG | 10 Februari 2020 18:02 Reporter : Siti Nur Azzura

Merdeka.com - Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) akan mengawal program prioritas pembangunan industri nasional karena sektor industri manufaktur diyakini akan menyerap banyak tenaga kerja siap pakai, mampu mengundang investor, serta berkontribusi terhadap pendapatan nasional dan pertumbuhan perekonomian.

"Selain bertugas mengawasi secara kritis, kami juga akan terus mendorong dan mengawal ketat sejumlah program prioritas pembangunan industri nasional yang sedang dan akan ditempuh pemerintah," kata Anggota Komisi VI DPR RI Marwan Jafar, dikutip Antara, Senin (10/2).

Marwan menyampaikan, DPR akan fokus menyoroti aspek penyerapan tenaga kerja yang dapat tercapai, termasuk dalam konteks meningkatkan keahlian dan daya saing sumber daya manusia dibidang perindustrian di era millenial saat ini dan ke depan.

Selain itu, aspek transformasi sektor industri manufaktur juga diharapkan mampu menopang pembangunan wilayah-wilayah industri baru di banyak lokasi di Sumatera, Kalimantan Selatan, serta sejumlah lokasi lain di Madura, Maluku Utara, Sulawesi Utara, dan wilayah Papua Barat.

Tak hanya industri manufaktur, pengembangan sektor industri kecil dan menengah (IKM) juga perlu mendapat perhatian serta dilibatkan secara khusus seiring pembangunan beberapa wilayah industri baru sebagai penggerak perekonomian di daerah.

Sesuai program prioritas Making Indonesia 4.0, pemerintah akan fokus mengakselerasi sektor manufaktur melakukan transformasi ke arah industri 4.0 atau digitalisasi. Upaya strategis ini dinilai bisa meningkatkan produktivitas secara lebih efisien sehingga mampu mendongkrak daya saing.

"Karena itu, Kementerian Perindustrian harus proaktif mengajak kalangan pelaku IKM melek atau mengakrabi dunia digital, bukan hanya buat industri skala besar saja," ujarnya.

1 dari 1 halaman

Optimalisasi Industri 4.0

40

Seperti workshop e-Smart IKM yang diluncurkan sejak 2017 hingga 2019 serta diikuti sebanyak 10.038 peserta dengan total transaksi penjualan yang dihasilkan sebesar Rp3,27 miliar, wajib dilanjutkan secara lebih massif dan merata di seluruh Indonesia.

Optimalisasi industri 4.0 juga dinilai harus bisa mengoptimalkan potensi penambahan pertumbuhan ekonomi sekitar 1-2 persen, peningkatan kontribusi industri terhadap PDB hingga 25 persen, peningkatan net export sebesar 10 persen, dan menciptakan sebanyak 17 juta lapangan kerja baru.

"Yang jelas, komitmen Kementerian Perindustrian yang memproyeksikan pertumbuhan industri manufaktur mencapai angka 5,3 persen pada 2020, akan selalu kami tagih dan kawal terus," tandasnya. (mdk/azz)

Baca juga:
Kadin Pertanyakan Pertumbuhan Industri Manufaktur Menurun di 2019
Indef Beberkan Alasan Penjualan Listrik di 2019 Melambat
Bukan Virus Corona, Tingginya Harga Gas Pengaruhi Pertumbuhan Industri
Geger Virus Corona, Menperin Agus Tak Akan Setop Impor Bahan Baku Industri dari China
Nasib Ekonomi RI Usai Impor Hingga Penerbangan dari China Dihentikan
Ibu Kota Pindah ke Kalimantan, Status Jakarta Berubah Jadi Daerah Khusus Industri

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami