Gubernur BI Sebut Digitalisasi Game Changer Indonesia Hadapi Pandemi Virus Corona

Gubernur BI Sebut Digitalisasi Game Changer Indonesia Hadapi Pandemi Virus Corona
Gubernur BI Perry Warjiyo. ©handout/Bank Indonesia
EKONOMI | 8 Mei 2021 16:14 Reporter : Anggun P. Situmorang

Merdeka.com - Tekanan ekonomi akibat pandemi Virus Corona tengah dihadapi oleh hampir seluruh negara di dunia, tak terkecuali juga di Indonesia. Meski demikian, perekonomian nasional diklaim telah berhasil melewati masa-masa sulit dengan ditopang oleh berbagai kebijakan pemerintah, mulai dari pemberian beragam stimulus baik dalam hal fiskal maupun juga moneter hingga program vaksinasi.

“Dengan berbagai upaya yang ada, kita kini tidak lagi hanya berkutat pada perbaikan kondisi perekonomian, namun telah berlanjut pada langkah pemulihan ekonomi nasional,” ujar Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo dalam siaran pers, Sabtu (8/5).

Klaim telah membaiknya perekonomian nasional tersebut, menurut Perry, didasarkan pada catatan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang saat ini telah berada di kisaran 4,1 hingga 5,1 persen. Capaian tersebut ditopang oleh kinerja ekspor yang membanggakan, dan juga diperkuat oleh sejumlah stimulus baik fiskal maupun moneter. Tak hanya itu, stabilitas perekonomian makro disebut Perry juga tetap terjaga, dengan inflasi yang berada di level rendah.

“Inflasi kita terjaga di bawah dua persen, bahkan mencapai 1,4 persen untuk posisi saat ini. Di akhir tahun diproyeksikan juga masih akan terjaga di level tiga persen, dengan plus-minus satu persen. Lalu perbankan kita juga sangat kuat. Likuiditasnya melimpah, dengan tern suku bunga yang juga terus menurun. Ini semua membuat perekonomian kita saat ini jauh lebih baik disbanding masa-masa awal terjadinya pandemi,” tutur Perry.

Tak hanya ditopang oleh banyak faktor yang dijelaskannya tadi, Perry menambahkan, gelombang digitalisasi sistem pembayaran di masyarakat juga tampil sebagai game changer yang turut memperkuat Indonesia dalam menghadapi tekanan ekonomi akibat pandemi. Dengan adanya pandemi yang membuat mobilitas masyarakat menjadi sangat terbatas, gelombang digitalisasi justru terbukti sukses membuat aktivitas perekonomian sehari-hari di masyarakat jadi tetap bergeliat.

“Dengan pergerakan yang serba terbatas, pembayaran secara digital menjadi semakin luas dan diminati. Transaksi e-commerce kita tahun lalu, misalnya, telah mencapai Rp266 triliun. Insya Allah di tahun ini masih bisa tumbuh sekitar 39,1 persen menjadi Rp370 triliun,” ungkap Perry.

Tak hanya belanja lewat ecommerce saja yang tumbuh, pemakaian elektronik pada tahun lalu juga berhasil menembus angka Rp205 triliun. Pada tahun ini, nilai tersebut diperkirakan masih memiliki ruang untuk tumbuh sekitar 32,2 persen menjadi Rp271 triliun. Lalu transaksi digital banking secara fantastis juga berhasil menembus angka Rp27.000 triliun, dan pada tahun ini diproyeksikan masih bakal tumbuh sedikitnya sekitar 21,8 persen menjadi Rp33.000 triliun.

“Digital banking secara perlahan telah menjadi new normal dalam sistem perbankan dan juga perekonomian nasional secara luas. Ini jelas menjadi game changer yang tak bisa dilepaskan dari kemampuan ekonomi Indonesia untuk terus pulih dari dampak tekanan pandemi,” tegas Perry. (mdk/did)

Baca juga:
Pakai Bitcoin CS Sebagai Alat Pembayaran Bisa Diancam Pidana
BI Tutup Peluang Bitcoin Cs Sebagai Alat Pembayaran Sah di Indonesia
BI: Bitcoin Bukan Alat Pembayaran yang Sah
BI: Uang Pecahan Rp75.000 Alat Pembayaran Sah, Bukan Hanya untuk Souvenir
Pertama Sejak 2015, Harga Rumah Tercatat Turun 2 Persen
Bank Indonesia Beberkan 4 Langkah Transformasi agar Wakaf Makin Diminati
April 2021, Cadangan Devisa Indonesia Naik Menjadi USD 138,8 Miliar

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami