Gunakan Kapal Asing Untuk Ekspor dan Impor, Indonesia Merugi Rp97 Triliun

UANG | 16 Oktober 2019 19:14 Reporter : Dwi Aditya Putra

Merdeka.com - Menteri Perencanaan dan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro menyebut bahwa kerugian RI akibat aktivitas ekspor dan impor menggunakan kapal asing mencapai USD 6,9 miliar atau setara dengan Rp97,98 triliun (kurs Rp14.200). Kerugian itu terjadi di sektor angkutan laut (see freight).

"Defisit USD 6,9 miliar berasal dari pelayanan ekspor impor memakai kapal asing," ujar Bambang saat ditemui di Jiexpo Kemayoran, Jakarta, Rabu (16/10).

Dia merincikan pelayanan ekspor impor dengan kapal asing berperan 60 persen terhadap total defisit angkutan laut sebesar USD 6,9 miliar. Sedangkan sisanya meliputi pelayanan domestik dengan kapal asing 2 persen, penggunaan kapal dengan asuransi asing 11 persen dan lainnya 27 persen.

"Defisit neraca jasa transportasi kita senilai USD 8,8 miliar. Nah, 80 persen itu bersumber dari sea freight yang USD 6,9 miliar tadi," imbuh dia.

Di samping itu, kerugian lain yang di dapat Indonesia jika terus menerus menggunakan kapal asing yakni tidak tercatatnya sistem devisa negara.

"Jadi dia ketika kita ekspor itu kita inflow, devisa buat kita, berapa semisal. Ketika membawa barangnya ekspornya kapalnya kapal asing, langsung dicatat sebagai outflow (devisa keluar)," terang dia.

Baca juga:
Mendag Enggar Beberkan Penyebab Ekspor RI Kalah Dibanding Malaysia dan Vietnam
Toyota Ekspor Conversion Car Berbasis Fortuner, Begini Wujudnya
Perdagangan Indonesia - Korea Ditarget Tembus USD 30 Miliar di 2022
Sukses Jaga Kinerja Ekspor, Toyota Manufacturing Raih Penghargaan Primaniyarta 2019
Menhub Budi Ingin Ekspor Logistik Hanya Lewat Pelabuhan Tanjung Priok

(mdk/idr)