Hadiri Pertemuan G20, Pemerintah Sampaikan Strategi Transisi Energi Pro Lingkungan

UANG | 16 Juni 2019 13:00 Reporter : Dwi Aditya Putra

Merdeka.com - Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM), Ignasius Jonan bersama Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup, Siti Nurbaya memimpin delegasi Indonesia dalam pertemuan tingkat menteri negara-negara G20. Dalam pertemuan itu, keduanya membahas transisi energi yang selaras dengan perlindungan lingkungan di Kota Karuizawa, 150 kilometer utara Tokyo, Jepang.

Ministerial Meeting tersebut akan menyepakati Komitmen Energi G20 dalam Dokumen Lengkap Ministerial Communique, yang dibahas pada Energy Transitions Working Group (ETWG). Di mana pertemuan ini juga akan mengintegrasikan isu perubahan iklim, Jepang mengangkat tema utama transisi energi yang selaras dengan perlindungan lingkungan dan pertumbuhan ekonomi dalam "3E+S" yaitu Energy Security, Economic Efficiency and Environment (3E) and Safety (S).

Jepang juga memprioritaskan agenda Innovation dan advanced energy issues, yaitu Hidrogen, Carbon Capture Storage and Utilization (CCUS), Well-to-Wheel Analysis dan Nuklir serta Research and Development 20 (RD20).

Pada kesempatan kali ini, Indonesia berupaya melakukan berbagai upaya dan respon strategis, sehingga Sekretariat G20 Jepang mengakomodasi sejumlah isu dalam Third Draft Communique yang antara lain, memasukkan Sustainable Development Goals (SDGs)/Agenda 2030 sebagai referensi utama Komunike, dengan mengakui implementasi Transisi Energi yang beragam sesuai SDGs (SDG7).

Kemudian memasukkan biofuels sebagai salah satu Energy Innovations, serta bioenergy sebagai bagian dari Energi Terbarukan dan Transisi Energi di dunia pada beragam penggunaan terutama pembangkit listrik dan transportasi. Selanjutnya, memasukkan aspek affordability pada Energy Efficiency dan Power System, dan mengangkat Clean and Affordable Energy Access sebagai bagian tersendiri.

Selain itu pemerintah juga menekankan pentingnya memahami situasi masing-masing negara dalam pengembangan CCUS, dan mendorong kolaborasi internasional dalam pengembangan Hidrogen yang relatif masih baru.

Kemudian memfokuskan Well-to-Wheel hanya untuk mengembangkan potensi efisiensi energi, dan tidak untuk standardisasi perhitungan emisi CO2 kendaraan bermotor di setiap negara dan menyederhanakan pembahasan nuklir dan mengakomodasi kepentingan negara non-pemakai nuklir.

Selain mengikuti Ministerial Meeting, Menteri Jonan juga dijadwalkan melakukan sejumlah pertemuan bilateral dengan beberapa negara, salah satunya dengan Jepang dengan agenda menyaksikan Penandatanganan Head of Agreement (HoA) INPEX untuk pengelolaan Blok Masela, sumber di perairan Maluku.

Baca juga:
ESDM Klaim Sektor Kelistrikan Sudah Konsumsi B30
Diterapkan 2020, Program B30 Diklaim Kurangi Impor Solar Hingga 9 Juta Kl
Menteri Jonan Uji Coba Penggunaan Bahan Bakar B30
Menteri Jonan Jamin B30 Tak Pengaruhi Kerja Mesin
ESDM Akui Pernah Tegur Tambang Emas Ilegal di Bolaang Longsor Timbun Warga
Cerita Jonan Naikkan Gaji Kepala Stasiun Gambir dari Rp 2,75 Juta jadi Rp 30 Juta
Menteri Jonan Minta Badan Geologi Tata Ulang Wilayah Rawan Bencana

(mdk/azz)