Harapan Menteri Sri Mulyani untuk Nadiem Makarim Kelola Anggaran Pendidikan

UANG | 14 November 2019 17:29 Reporter : Dwi Aditya Putra

Merdeka.com - Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, memberikan harapan khusus kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim terkait pengelolaan anggaran pendidikan. Dia berharap, ke depan salah satu menteri termuda itu bisa berkomunikasi dengan pemerintah daerah agar dana alokasi khusus (DAK) non fisik dapat lebih efektif.

"Kita berharap nanti Mendikbud bisa berkomunikasi dengan daerah sehingga penggunaan anggaran pendidikan melalui DAK non fisik bisa menjadi betul-betul efektif meningkatkan kualitas pendidikan," kata Menteri Sri Mulyani di Kantor Pusat DJP, Jakarta, Kamis (14/11)

Menteri Sri Mulyani mengatakan, tujuan DAK non fisik diberikan pemerintah agar seluruh daerah memiliki tingkat kualitas layanan yang relatif sama utamanya di sektor pendidikan. Sebab, kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) tidak lepas dari peran pendidikan.

"Jangan lupa Indonesia maju hanya bisa terjadi kalau manusianya memiliki pendidikan, pengetahuan, skill dan juga karakter dan etos kerja yang baik maka semuanya fokusnya manusia yang harus menjadi baik," jelas dia.

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu berharap banyak agar Nadiem mampu membuat belanja yang efektif di kementerian yang dipimpinnya. Mengingat, saat ini Kemendikbud sendiri sekarang melebur kembali dengan Kementerian Pendidikan Tinggi (Dikti).

"Menteri pendidikan sekarang adalah kombinasi antara mendikbud dan menteri pendidikan tinggi mungkin kita akan lihat bagaimana inisiatif beliau di dalam mengefektifkan belanja belanja pendidikan yang sebagian besar adalah dalam bentuk DAK non fisik untuk bantuan operasional sekolah," pungkas Menteri Sri Mulyani.

1 dari 1 halaman

Jokowi Siap Beri Berapapun Anggaran Pendidikan Indonesia

Dalam debat capres kedua tentang Pembangunan Ekonomi dan Kesejahteraan Sosial, capres Prabowo Subianto bertanya kepada capres Jokowi tentang anggaran untuk investasi pendidikan sebesar Rp40 triliun.

Prabowo bertanya apakah Jokowi setuju dengan anggaran sebesar itu? Jokowi yang datang memakai stelan jas warna hitam menjawab, pembangunan manusia itu dimulai dari bidang pendidikan. Oleh sebab itu, kata dia, pendidikan menjadi hal paling utama.

"Memang pendidikan harus ada evaluasi dan perubahan. Menurut kami pendidikan tingkat SD, itu 80 persen harus bicara yang berkaitan dengan pendidikan karakter, akhlak serta 20 persen pengetahuan. SMP 60 persen pendidikan karakter dan 40 persen pengetahuan, kemudian SMA 80 persen pengetahuan, keterampilan, skill, dan 40 persen karakter," kata Jokowi.

Oleh sebab itu, dia menegaskan, dengan cara itu Indonesia mendapatkan manusia punya sikap mental unggul dan memiliki etos kerja tinggi. Kedepan, dia melanjutkan, apabila itu dilakukan maka Indonesia akan memiliki manusia dengan daya saing tinggi.

"Jadi berapapun (anggaran) yang dibutuhkan untuk investasi pendidikan ke depan, apalagi cuma Rp40 triliun, asal efisiensi bidang kelistrikan bisa beralih menggunakan, gas, batu bara, itu kami hitung bisa menghemat Rp70 triliun," ujarnya.

"Sehingga pendidikan menjadi fokus utama kami agar Indonesia memiliki manusia-manusia dengan produktivitas tinggi. Agar kekayaan alam kita dikelola warga Indonesia sendiri, itu baru bisa dilakukan dengan syarat masyarakat memiliki pendidikan tinggi."

(mdk/bim)

Baca juga:
Jokowi: Jangan Sampai Ada yang Putus Sekolah karena Biaya Pendidikan
SMA Gonzaga Bakal Gugat Balik Orangtua Siswa yang Tak Naik Kelas
Hakim Tak Hadir, Mediasi Orang Tua Siswa vs SMA Kolase Gonzaga Ditunda Pekan Depan
Alasan Ortu Siswa SMA Tak Naik Kelas juga Minta Ganti Rugi ke Gonzaga
Sidang Gugatan Siswa SMA Gonzaga Tak Naik Kelas Akan Dimediasi
5 Orang Terkaya yang Ternyata Tidak Lulus SMA
Gara-gara Dimakan Rayap, Atap Kelas SD di Ponorogo Nyaris Runtuh