Harga BBM naik Rp 3.000 per liter, likuiditas bank semakin seret

UANG | 12 November 2014 19:17 Reporter : Alwan Ridha Ramdani

Merdeka.com - Komisaris Independen PermataBank Tony Prasetiantono memprediksi, jika pemerintah naikkan harga BBM subsidi Rp 3.000 per liter, likuiditas perbankan nasional akan semakin ketat. Tetapi, jika hanya Rp 2.500 per liter maka BI Rate yang saat ini masih akan di level 7,5 persen.

"Kalau harga eceran Rp 9.500 per liter, saya khawatir inflasi akan tembus di atas 8 persen," ujarnya di acara Indonesia Economic Outlook 2015, yang di gelar PermataBank, Rabu (12/11).

Dia mengatakan, kondisi inflasi saat ini year on year 4,8 persen dan year to date 4,2 persen. Bila ditambah kenaikan bensin Rp 3.000, pelaku sektor perbankan mengaku khawatir.

"Cukup Rp 2.500 maksimum. Angka ini cukup nyaman dan lebih bisa diterima."

Tony berharap, pemerintah terus mengurangi subsidi BBM dalam tiga tahun mendatang. Ini bisa membuat ekonomi Indonesia lebih sehat.

"Subsidi Rp 250 triliun itu besar. Kalau Rp 125 triliun buat infrastruktur itu besar. Bisa bikin MRT, bandara dan pelabuhan tiap tahun."

Pelaksana Tugas Direktur Utama PemataBank Roy Arfandy menegaskan, pihaknya harus melakukan evaluasi pada bisnis bank. Terutama jika bank sentral menaikkan BI Rate sebagai imbas kenaikan harga BBM. Perseroan akan lebih fokus penggalangan dana murah dengan produk consumer banking untuk layanan gaji karyawan dan kapabilitas e-chanel.

"Dalam tiga tahun ini, likuiditas market dengan indikator LDR, sekarang lebih ketat. Tahun depan hal yang sama akan terjadi." Katanya. (mdk/noe)

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.