Harga Gas Turun, Industri Bisa Hemat Rp743 Miliar per Tahun

Harga Gas Turun, Industri Bisa Hemat Rp743 Miliar per Tahun
UANG | 5 Juli 2020 09:40 Reporter : Idris Rusadi Putra

Merdeka.com - Direktur Utama Petrokimia Gresik, Rahmad Pribadi mengapresiasi kebijakan Kementerian ESDM terkait penyesuaian harga gas bumi. Sebab, diproyeksikan akan berdampak pada efisiensi atau penghematan biaya produksi pupuk Urea, ZA dan NPK di perusahaan tersebut yang mencapai Rp743,97 miliar per tahun.

"Ini juga akan berdampak pada penurunan biaya subsidi pupuk yang harus dibayarkan pemerintah," kata Rahmad dikutip dari Antara, Minggu (5/7).

Dia mengatakan, Petrokimia sebagai perusahaan anggota holding Pupuk Indonesia menyambut positif kebijakan penyesuaian harga gas bumi oleh pemerintah, dan semakin optimistis dalam menghadapi persaingan global.Rahmad menyebutkan, gas bumi merupakan bahan baku utama untuk memproduksi pupuk bersubsidi jenis Urea, ZA, dan NPK.

Dia mengatakan, porsi gas bumi untuk produksi pupuk Urea mencapai 70 persen, sementara harga gas bumi yang selama ini diperoleh Petrokimia Gresik dari sejumlah pemasok cukup tinggi, rata-rata di angka USD 7,45 per MMBTU.

"Harga USD 7,45 per MMBTU ini cukup tinggi jika dibandingkan dengan pabrik pupuk lainnya di Indonesia. Dan sangat tinggi jika dibandingkan dengan negara lainnya di Asia Tenggara seperti Vietnam, Malaysia, dan lain sebagainya," ujar Rahmad.

Oleh karena itu, dengan adanya beleid baru dari Kementerian ESDM, Petrokimia Gresik akan menerima harga gas bumi pada kisaran USD 6 per MMBTU.

Sementara itu, penyesuaian harga gas bumi diatur dalam Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (Kepmen ESDM) No. 89K/10/MEM/2020 tanggal 13 April 2020 tentang Pengguna dan Harga Gas Bumi Tertentu di Bidang Industri.

1 dari 1 halaman

Efisiensi Perusahaan

rev1

Ada tujuh sektor yang mendapat penyesuaian harga, salah satunya industri pupuk, di mana harga pada titik serah pengguna (plant gate) ditetapkan pada kisaran harga 6 dolar per MMBTU (Million British Thermal Units).

Saat ini, Petrokimia Gresik memiliki 31 pabrik (pupuk dan non-pupuk) dengan kapasitas total 8,9 juta ton per tahun. Adapun pabrik yang menggunakan gas bumi sebagai bahan baku sebanyak 15 unit, yaitu dua unit pabrik amoniak (bahan baku Urea) kapasitas produksi 1,1 juta ton per tahun, dua unit pabrik Urea kapasitas 1 juta ton per tahun, tiga unit pabrik ZA kapasitas 750 ribu ton per tahun, serta delapan unit pabrik NPK kapasitas 2,7 juta ton.

Meskipun kisaran harga 6 dolar per MMBTU ini masih di atas harga gas bumi di negara lain (US$ 3-4 per MMBTU).

"Kami tetap optimistis penurunan harga ini sangat membantu meningkatkan efisiensi perusahaan dalam menghadapi persaingan global. Efisiensi ini sejalan dengan program transformasi bisnis yang digalakkan Petrokimia Gresik sejak tahun 2019. Salah satu tujuannya adalah memperbaiki dan meningkatkan efisiensi value chain. Saat ini, semua proses bisnis sudah pada tahapan paling efektif dan efisien, sehingga harga pokok penjualan produk Petrokimia Gresik menjadi lebih kompetitif," katanya. (mdk/idr)

Baca juga:
Bos SKK Migas Ungkap 3 Alasan Realisasi Penerimaan Migas 2020 Ditaksir Hanya Rp 83 T
Menperin: Harga Gas USD 6 per MMBTU Kurangi Beban Industri Manufaktur
Penurunan Harga Gas Bakal Dongkrak Daya Saing Industri Domestik
Apindo Minta Turunkan Harga BBM, Gas dan Tarif Listrik Imbas Pandemi Corona
Resmi, Harga Gas Untuk Pembangkit Listrik Turun
BPH Migas Indentifikasi Kendala Penurunan Harga Gas

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami