Harga Minyak Dunia Anjlok, Tiket Pesawat Bisa Lebih Murah Lagi

Harga Minyak Dunia Anjlok, Tiket Pesawat Bisa Lebih Murah Lagi
UANG | 10 Maret 2020 17:39 Reporter : Anggun P. Situmorang

Merdeka.com - Harga minyak dunia mencapai titik terendah dalam empat tahun belakangan pada perdagangan Senin (9/3). Hari ini, minyak dunia dibuka pada harga USD 32,06 per barel, naik tipis sekitar 92 sen dolar.

Direktur Utama Angkasa Pura I, Faik Fahmi mengatakan, penurunan harga minyak dunia dalam beberapa hari terakhir bisa berdampak pada penurunan harga tiket pesawat. Sebab, harga minyak akan selalu diikuti oleh penyesuaian harga avtur.

"Sebenarnya dampak langsung dirasakan oleh airline. Karena harga harga minyak turun, avtur juga akan turun," ujar Faik saat ditemui di Plataran Menteng, Jakarta, Selasa (10/3).

Penurunan harga avtur akan membuat biaya operasional maskapai menurun. Apabila biaya operasional maskapai menurun maka harga tiket bisa turun. Sementara AP I akan mendapatkan untung apabila tiket turun.

"Jadi biaya operasi airline murah, harapannya harga tiket bisa juga murah. Kalau tiket murah, penumpang makin banyak. AP I juga kecipratan karena penumpang yang datang lebih banyak," jelas Faik.

1 dari 1 halaman

Harga Minyak Dunia

dunia rev1

Harga minyak mentah dunia naik kembali, usai turun lebih dari 20 persen. Minyak mentah Intermediate West Texas (WTI) dan patokan minyak internasional Brent sempat mencatat penurunan terburuk sejak 1991.

Melansir laman CNBC, Selasa (10/3/2020), kini harga WTI diperdagangkan naik 92 sen, atau 2,9 persen menjadi USD 32,06 per barel.

Kemarin, WTI dan Brent masing-masing turun 24,59 persen dan 24,1 persen. Penurunan ini mencapai posisi terendah lebih dari 4 tahun. Aksi jual tajam terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara Arab Saudi dan Rusia, yang dikhawatirkan dapat menyebabkan pasokan minyak mentah berlebih.

Pada pekan lalu, Rusia selaku sekutu OPEC menolak tambahan produksi 1,5 juta barel per hari yang diusulkan 14 anggota kartel minyak tersebut. Usai terjadi kebuntuan pembicaraan, pemimpin OPEC Arab Saudi langsung memangkas harga minyak resminya karena dilaporkan bersiap untuk meningkatkan produksi.

Pemotongan produksi sebelumnya berakhir pada Maret. Itu artinya, mulai 1 April, para produsen minyak boleh memompa produksinya sesuai keinginan. Membanjirnya pasokan bisa kian menekan harga yang sudah tertekan wabah Virus Corona.

Pada hari Senin, Departemen Energi AS mengatakan pemerintahan Trump sedang memantau situasi menyusul penurunan tajam minyak dunia tersebut.

"Upaya negara ini untuk memanipulasi dan mengejutkan pasar minyak memperkuat pentingnya peran Amerika Serikat sebagai pemasok energi yang andal bagi mitra dan sekutu di seluruh dunia. Amerika Serikat, sebagai produsen minyak dan gas terbesar di dunia, dapat dan akan tahan terhadap volatilitas ini. Pertumbuhan industri minyak dan gas yang tidak konvensional di Amerika Serikat telah menghasilkan pasar yang lebih aman, tangguh, dan fleksibel," mengutip pernyataan departemen tersebut. (mdk/idr)

Baca juga:
IHSG Anjlok, 12 BUMN Siap Buyback Saham Capai Rp8 Triliun
Menko Luhut soal Harga Minyak Anjlok: Kita Enggak Boleh Terburu-buru Ambil Kebijakan
Strategi SKK Migas Genjot Produksi saat Harga Minyak Dunia Anjlok
Arab Saudi Pangkas Harga Minyak, Ini Dampak Positif dan Negatif ke RI
3 Solusi Kunci Bank Indonesia Hadapi Virus Corona dan Perang Harga Minyak Dunia
Februari 2020, ICP Turun Menjadi USD 56,61 per Barel

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Menolak Bahaya Lebih Baik Daripada Mengejar Manfaat

5