Harga Minyak Dunia Kembali Naik Usai OPEC Pangkas Produksi Besar-Besaran

Harga Minyak Dunia Kembali Naik Usai OPEC Pangkas Produksi Besar-Besaran
Ilustrasi Migas. shutterstock.com
EKONOMI | 6 Oktober 2022 09:45 Reporter : Sulaeman

Merdeka.com - Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak Bumi dan sekutunya, kelompok yang dikenal sebagai OPEC+, menyetujui pengurangan produksi minyak yang tajam pada hari Rabu (5/10). Keputusan ini sontak menyebabkan bentrokan dengan Barat karena pemerintah Amerika Serikat menyebut keputusan mengejutkan itu picik.

Pemimpin de-facto OPEC Arab Saudi mengatakan pemotongan produksi 2 juta barel per hari (bph), sama dengan 2 persen dari pasokan global. Pemangkasan produksi ini diperlukan untuk mendorong kenaikan harga minyak dalam merespon kenaikan suku bunga di Barat dan ekonomi global yang lebih lemah.

Dalam kesempatan itu, pihak Kerajaan Arab Saudi itu juga menolak kritik bahwa mereka berkolusi dengan Rusia, yang termasuk dalam kelompok OPEC+, untuk mendorong harga lebih tinggi. Sebaliknya, Arab Saudi mengatakan Barat sering didorong oleh "arogansi kekayaan" ketika mengkritik kelompok tersebut.

"Pengurangan pasokan minyak sendiri diputuskan di Wina pada hari Rabu (5/10) diyakini dapat memacu pemulihan harga minyak yang telah turun menjadi sekitar USD 90 dari USD 120 tiga bulan lalu di tengah kekhawatiran resesi ekonomi global, kenaikan suku bunga AS dan dolar yang lebih kuat," tulis OPEC+ melalui Reuters dikutip, Kamis (6/10).

Menteri Energi Saudi Abdulaziz bin Salman mengatakan OPEC+ perlu proaktif karena bank sentral di seluruh dunia bergerak untuk "terlambat" mengatasi inflasi yang melonjak dengan suku bunga yang lebih tinggi.

Pemotongan produksi hari Rabu sebesar 2 juta barel per hari didasarkan pada angka-angka dasar yang ada, yang berarti pemotongan tersebut tidak akan terlalu dalam karena OPEC+ turun sekitar 3,6 juta barel per hari dari target produksinya pada Agustus.

Kurangnya produksi terjadi karena sanksi Barat terhadap negara-negara seperti Rusia, Venezuela dan Iran dan masalah produksi dengan produsen seperti Nigeria dan Angola. Sementara itu, Gedung Putih mengatakan Presiden Joe Biden akan terus menilai apakah akan merilis stok minyak strategis lebih lanjut untuk menurunkan harga.

"Presiden kecewa dengan keputusan picik OPEC+ untuk memangkas kuota produksi sementara ekonomi global menghadapi dampak negatif lanjutan dari invasi (Presiden Rusia Vladimir) Putin ke Ukraina," kata Gedung Putih.

Di sisi lain, Biden tengah menghadapi peringkat persetujuan yang rendah menjelang pemilihan paruh waktu karena inflasi yang melonjak dan telah meminta Arab Saudi, sekutu jangka panjang AS, untuk membantu menurunkan harga.

Para pejabat AS mengatakan sebagian alasan Washington menginginkan harga minyak yang lebih rendah adalah untuk menghilangkan pendapatan minyak Moskow. Biden melakukan perjalanan ke Riyadh tahun ini tetapi gagal mendapatkan komitmen kerja sama yang kuat tentang energi. Hubungan semakin tegang karena Arab Saudi tidak mengutuk tindakan Moskow di Ukraina. (mdk/azz)

Baca juga:
Harga Minyak Dunia Anjlok Tajam ke Level Terendah Sejak Januari 2022
Harga Minyak Dunia Anjlok Lagi, Cek Harga Terbarunya di Sini
Akankah Harga BBM Turun Jika Indonesia Beli Minyak dari Rusia?
Harga Minyak Dunia Lebih Murah, Sempat Sentuh Level Terendah 7 Bulan Terakhir
Harga Minyak Dunia Anjlok di Tengah Rencana Kenaikan Harga BBM
Elon Musk: Dunia Masih Butuh Minyak dan Gas

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Opini