Harga Minyak Dunia Naik, Neraca Perdagangan Maret 2019 Diprediksi Defisit

UANG | 12 April 2019 13:28 Reporter : Anggun P. Situmorang

Merdeka.com - Badan Pusat Statistik (BPS) akan merilis perkembangan ekspor impor Maret pada Senin, 15 April 2019. Bersamaan dengan hal tersebut, BPS sekaligus juga akan merilis posisi neraca perdagangan.

Pengamat Ekonomi, Bhima Yudhistira, memprediksi neraca perdagangan pada Maret akan mengalami defisit USD 100 juta hingga USD 200 juta. Hal ini dipicu oleh harga minyak mentah yang mengalami kenaikan.

"Diperkirakan akan kembali defisit seiring naiknya harga minyak mentah memperlebar defisit migas," ujar Bhima kepada merdeka.com, Jumat (12/4).

Selain karena kenaikan harga minyak dunia, defisit juga dipengaruhi oleh normalisasi produksi yang memicu impor bahan baku lebih tinggi. Sementara itu, ekspor dinilai belum juga memberi geliat kenaikan yang cukup besar.

"Industri mulai lakukan normalisasi produksi dengan impor bahan baku lebih besar. Di sisi lain situasi ekspor belum ada perbaikan yang signifikan karena permintaan sawit dan karet global masih lemah," jelas Bhima.

Bhima menambahkan, defisit perdagangan perlu diwaspadai jelang Ramadan dan Lebaran. Sebab, menjelang Lebaran biasanya konsumsi masyarakat akan meningkat tajam.

"Perlu diwaspadai defisit neraca perdagangan yang meningkat jelang Ramadhan dan Lebaran. Konsumsi masyarakat yang tinggi terhadap pangan mau tidak mau mendorong impor pangan lebih tinggi," tandasnya.

Baca juga:
Pertumbuhan Ekonomi Dunia Turun, Bagaimana Dampaknya ke Indonesia?
Bukan Dampak Turki, Menko Darmin Lebih Khawatirkan Defisit Neraca Perdagangan RI
Meski Neraca Perdagangan Februari Surplus, Pemerintah Tetap Upaya Tekan Defisit Migas
Sri Mulyani Soal Neraca Dagang Surplus: Kita Akan Tetap Waspada
Menko Darmin Soal Neraca Dagang Surplus: Kerja Keras Masih Belum Cukup
BPS Catat Neraca Perdagangan Februari 2019 Surplus USD 0,33 Miliar
Defisit Neraca Perdagangan Januari 2019 Akibat Pelemahan Ekspor Imbas Perang Dagang

(mdk/bim)