Harga Rumah Mahal Buat Milenial Sulit Kaya?

UANG | 15 Agustus 2019 08:40 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Analisis terbaru menunjukkan perbedaan kekayaan Generasi Y (milenial) dan generasi pendahulunya yakni Generasi X (baby boomer). Mahalnya harga rumah menjadi satu faktor yang menyulitkan milenial mengumpulkan kekayaan.

Melansir CNBC, pemuda berusia 20-35 tahun di AS pada tahun 1998 memiliki rata-rata kekayaan USD 103.400, sementara pemuda berusia 20-35 tahun pada zaman sekarang memiliki USD 100.800.

Harga rumah di AS yang ikut makin mahal pun ikut menjadi masalah. Kini, nilai median rumah adalah USD 227 ribu. Angka itu melambung dua kali lipat ketimbang tahun 1990 ketika harga median rumah USD 101.100 (sudah disesuaikan inflasi).

"Kondisi para pemuda dari 20 tahun yang lalu sangatlah berbeda," jelas Mandi Woodruff, eksekutif direktur dari situs kredit Magnify Money yang melakukan analisis.

Masih di AS, masalah finansial para milenial turut diperberat oleh harga kuliah yang makin mahal. Pemuda pun terpaksa meminjam utang mahasiswa (student debt) sebesar puluhan ribu dolar atau ratusan juga.

Perencana keuangan dan wakil presiden senior bank UBS Paula Mogan mengajak agar para milenial terus menabung. Usia milenial yang masih muda disebutnya sebagai aset untuk bersiap.

"Menabung, menabung, menabung, karena selama 30 sampai 40 tahun ke depan hal itu akan membantumu meraih keamanan finansial yang kamu inginkan," ujarnya.

Mogan pun mengajak para milenial untuk menyiapkan dana darurat untuk enam bulan ke depan, membuat anggaran khusus untuk membeli rumah atau biaya pernikahan, dan jeli dalam menggunakan benefit.

Di Indonesia, berdasarkan survei penduduk antar sensus (Supas) 2015 jumlah penduduk Indonesia pada 2019 diproyeksikan mencapai 266,91 juta jiwa. Dampak langsung atas pertumbuhan penduduk tersebut adalah turut meningkatnya permintaan akan hunian.

Dan pada tahun 2016, Bank Dunia juga merilis laporan bahwa kebutuhan rumah di Indonesia mencapai 920 ribu unit per tahun, sedangkan angka ketersediaan hanya mencapai 400 ribu unit per tahun. Kondisi ini tentu saja merupakan potensi pasar yang besar yang bisa dibidik para pengembang.

Dan faktanya, permintaan akan hunian yang akan secara langsung dihuni lebih banyak pada segmen rumah tapak dibandingkan dengan apartemen. Segmen konsumen rumah tapak mayoritas juga merupakan end-user yang akan menempati secara pribadi. Sedangkan konsumen apartemen masih lebih banyak diburu oleh segmen investor sebagai bisnis sewa properti sehingga memperoleh pemasukan.

Reporter: Tommy Kurnia

Sumber: Liputan6.com

(mdk/idr)

TOPIK TERKAIT