Harga Tiket Pesawat Lebih Mahal dari Transportasi Lain, Ini Alasannya

Harga Tiket Pesawat Lebih Mahal dari Transportasi Lain, Ini Alasannya
Ilustrasi pesawat. ©2014 Merdeka.com/Shutterstock/IM_photo
EKONOMI | 25 Januari 2022 11:20 Reporter : Anisyah Al Faqir

Merdeka.com - Siapa tak tahu harga tiket pesawat menjadi yang paling mahal di antara transportasi umum massal yang lainnya. Rute penerbangan domestik terdekat saja harga tiketnya di atas Rp 500 ribu untuk satu kali berangkat.

Hal itu belum termasuk biaya tambahan lainnya seperti biaya untuk swab antigen atau PCR. Mengingat untuk perjalanan udara, wajib menyertakan hasil negatif Covid-19.

Tak hanya itu, perjalanan dari rumah ke bandara juga cukup menguras dompet. Sebab lokasinya tidak banyak dan biasanya berada di tempat yang jauh dari lokasi pemukiman.

Tak heran jarang, orang yang sering menumpang pesawat dianggap orang kelas menengah atas. Lantas, apa saja penyebab harga tiket pesawat lebih mahal dari transportasi yang lain, simak dari Binus University berikut ini:

1. Mahalnya BBM Pesawat

Bahan bakar pesawat dibuat khusus oleh PT Pertamina yakni Aviation Turbine atau lebih dikenal dengan sebutan avtur. Avtur yang dijual Pertamina ternyata harganya lebih mahal dari avtur yang dijual di luar negeri.

Setidaknya setiap perusahaan penerbangan di Tanah Air harus mengeluarkan biaya 10 persen sampai 16 persen untuk membeli avtur. Sehingga avtur menjadi komponen besar dalam biaya beban operasional maskapai penerbangan yakni sebesar 40-45 persen.

2 dari 2 halaman

2. Dipengaruhi Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS

Fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat menjadi penyebab harga tiket pesawat yang mahal. Nilai tukar rupiah yang lemah akan berdampak pada leasing komponen pesawat yang dibayarkan dengan mata uang dolar.

Leasing ini memiliki komponen sebesar 20 persen dalam suatu harga tiket pesawat. Sehingga bisa berdampak pada kenaikan harga tiket pesawat.

Melemahnya nilai tukar rupiah juga bisa meningkatkan biaya operasional penerbangan seperti biaya perawatan pesawat dan gaji karyawan.

3. Hukum Ekonomi Supply-Demand

Dalam waktu-waktu tertentu harga tiket pesawat bisa lebih tinggi dari biasanya. Biasanya kenaikan harga tiket ini terjadi saat musim liburan akhir tahun, libur sekolah dan libur lebaran.

Meski begitu, perusahaan maskapai penerbangan tidak boleh menjual tiket seenaknya. Sebab pemerintah telah menetapkan tarif batas atas (TBA) penjualan tiket pesawat. Sehingga penumpang tetap mampu membeli tiket pesawat.

4. Dugaan Kesepakatan Kartel

Di Indonesia, bisnis penebangan dikuasai Garuda Indonesia Group dan Lion Air Group. Garuda Indonesia memiliki sejumlah maskapai penerbangan yakni Garuda Indonesia, Citilink, Sriwijaya Air, dan NAM air. Sedangkan dari Lion Air Group terdiri dari Lion Air, Batik Air, dan Wings Air.

Kedua grup tersebut membentuk pasar oligopoli yakni hanya 2 pemain besar dalam suatu pasar. Sehingga mereka bisa secara sepihak menaikkan harga tiket pesawat secara bersama-sama. Utamanya pada rute-rute domestik yang tidak dilayani maskapai internasional.

Baca juga:
Terinspirasi BJ Habibie, Pemuda di Sumedang Berhasil Buat Start Up Pesawat Terbang
Mahasiswa UI Ciptakan Pesawat Canggih Teknologi Microsoft, Mampu Petakan Area
Sendirian Jadi Penumpang Pesawat, Pria Ini Nikmati Fasilitas Mewah
Cantiknya Kebangetan, Ini Para Anggota TNI AU Wanita Jadi Pramugari Pesawat Presiden
Garuda Indonesia Punya 13 Pesawat ATR 72-600 Berstatus Sewa
Melihat Lebih Dekat Kuburan Pesawat di Bogor

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami