Hati-Hati, Materai Palsu Banyak Beredar di Toko Online

UANG | 18 November 2019 13:21 Reporter : Wilfridus Setu Embu

Merdeka.com - Direktorat Jenderal Pajak bekerja sama dengan Perum Peruri dan PT Pos Indonesia (Persero) menggelar sosialisasi tentang bea meterai di Kantor Pusat Ditjen Pajak, Jakarta. Sosialisasi ini dilakukan sebagai bagian dari upaya bersama memerangi peredaran meterai ilegal termasuk meterai bekas pakai dan meterai palsu.

Direktur Potensi, Kepatuhan, dan Penerimaan Pajak Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan, Yon Arsal mengatakan, meterai palsu serta meterai bekas pakai (rekondisi) masih banyak beredar di toko online. Meterai palsu tersebut dijual dengan harga murah.

"Masih ada yang jualan di toko online bea meterai Rp2.000. Itu pasti bea meterai palsu," kata dia dalam acara sosialisasi di kantor pusat DJP, Jakarta, Senin (18/11).

Dia menegaskan, pihaknya terus berupaya untuk menekan peredaran meterai palsu. Selain langkah sosialisasi yang terus digalakkan, Ditjen Pajak juga menggandeng pihak Kepolisian.

"Tahun lalu itu menurut saya itu, 2018 paling banyak kita menangkap orang lah, kerja sama dengan Kabareskrim. Paling banyak kita tangkapin kasus penjual meterai palsu, atau meterai rekondisi, itu sudah masuk penjara," jelasnya.

1 dari 1 halaman

Masyarakat Diminta Hati-Hati

Meski demikian, patut diakui bahwa peredaran meterai palsu masih saja terjadi. Oleh karena itu, pihaknya berharap masyarakat tetap berhati-hati saat membeli meterai. Apalagi yang dijual dengan harga murah.

"Tapi yang namanya ini, dimasukin penjara 1, yang hidupnya makin banyak, makin banyak. Nah ini memang perlu sama-sama kita perhatikan," ungkapnya.

Ditjen Pajak mengingatkan bahwa sehubungan dengan dugaan adanya peredaran benda meterai/meterai tempel tidak sah, yaitu yang tidak dicetak oleh Perum Peruri atau meterai tempel rekondisi atau bekas pakai. Bagi peniru atau pemalsu, pengedar, penjual dan pengguna benda meterai/meterai tempel tidak sah tersebut dapat dipidana sesuai dengan ketentuan dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana.

Saat ini, meterai resmi dijual PT Pos Indonesia (Persero) dengan harga nominal, yaitu Rp3.000 untuk Kopur 3000 dan Rp6.000 untuk Kopur 6000. Dengan demikian apabila terdapat penawaran meterai dengan harga yang lebih rendah dari nilai nominal maka patut diduga benda meterai/meterai tempel tersebut adalah palsu atau tidak sah.

Masyarakat diharapkan untuk cermat dalam menanggapi tawaran penjualan Benda Meterai/Meterai Tempel yang diduga palsu atau tidak sah, baik yang ditawarkan melalui SMS, media online, maupun sarana penawaran lainnya. (mdk/idr)

Baca juga:
Hingga Oktober 2019, Penerimaan Bea Meterai Sentuh Rp4,6 Triliun
RUU Kenaikan Bea Materai Diharapkan Masuk Prolegnas 2020
Pelaku Rekondisi Materai Belajar dari Youtube, Ini Perbedaan dengan yang Asli
Polisi Bongkar Peredaran Materai Daur Ulang di Tangsel
Pos Indonesia Rugi Rp30 Miliar Akibat Meterai Palsu

TOPIK TERKAIT