Hatta akui realisasi investasi tak serap tenaga kerja

UANG | 25 April 2014 12:28 Reporter : Ardyan Mohamad

Merdeka.com - Badan Koordinasi Penanaman Modal (BPKM) melaporkan total realisasi investasi untuk triwulan I tahun ini mencapai Rp 106,6 triliun, meningkat 14,6 persen dibanding triwulan IV tahun lalu. Kendati kinerja itu positif, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa mengakui tidak banyak aliran modal ke sektor padat karya.

Alhasil, serapan tenaga kerja tidak bisa mengandalkan dari investasi semata. "Memang pergeseran industri berbasis padat karya utamanya industri primer sekarang padat modal ini memang serapan sedikit, produktivitas meningkat, tapi intinya kita masih memerlukan industri padat karya," kata Hatta di kantornya, Jakarta, Jumat (25/4).

Untuk Penanaman Modal Asing (PMA), lima sektor yang diminati para investor yakni sektor tambang sebesar USD 1,7 miliar atau mencapai 24 persen dari total PMA. Industri makanan sebesar USD 800 juta atau mencapai 11,4 persen., serta industri transportasi dan perlengkapan sebesar USD 600 juta atau mencapai 8,8 persen.

Hatta berjanji ke depannya mengarahkan investasi agar lebih banyak mengarah ke sektor hulu. Tugas pemerintah adalah mengarahkan agar serapan hilir terjaga, sehingga masyarakat  merasakan aliran modal yang masuk negara ini.

"Olahan hulu berbasis kelautan seperti saya ke indonesia timur. Bagaimana serapan tenaga kerja besar di daerah NTT, berbasis kelautan seperti rumput laut itu kan primer hulunya masyarakat bekerja tapi tidak boleh berhenti di situ harus ada industri olahannya," ungkap mantan menteri perhubungan ini.

Adapun pemerintah mengklaim akan terus mengupayakan mendapat investor berkualitas. Kriterianya, kata Hatta, bukan sekadar besar nilainya, tapi harus tidak membebani neraca pemerintah. 

"Kita hindarkan adalah investasi yang justru membebani bahan baku dari impor, mengembangkan investor yang berbasis industri SDA dari terbarukan contohnya kehutanan, kelautan," ungkapnya.

BPKM mencatat, tak jauh beda dari PMA, pemodal dalam negeri juga tak terlalu banyak masuk ke bisnis padat karya. Sektor favorit investor lokal adalah listrik, gas dan air sebesar Rp 11,3 triliun atau mencapai 32,8 persen dari total PMDN. Sebagian juga masuk ke industri makanan sebesar Rp 4,8 triliun atau mencapai 14 persen dari total PMDN, serta properti, industri properti dan aktivitas bisnis sebesar Rp 4,6 triliun atau mencapai 13,2 persen dari total PMDN.

"Untuk PMDN masih sektor jasa, tetap sama dibandingkan sebelumya sebenarnya. Diikuti manufaktur dan lain-lain termasuk pertanian," kata Kepala BKPM Mahendra Siregar dalam jumpa pers kemarin.

Dari total angka investasi di triwulan I 2014 yang mencapai Rp 106,6 triliun, sebesar Rp 62 triliun mengarah ke Pulau Jawa. Sisanya sebesar Rp 44,6 triliun mengarah ke luar Pulau Jawa.


Tinggal selangkah lagi, Gerindra-PAN resmi koalisi
Lahan warga di lokasi turbin, runyamkan nasib PLTU Batang
Operasional PLTU Batang dipastikan molor hingga 2019
Hatta: Akuisisi BTN ditunda, Dahlan harus belajar hati-hati
Hatta sebut tak ada diskon bea keluar untuk Freeport

(mdk/noe)