Hingga Akhir Januari, 6 Blok Migas Ubah Skema Jadi Gross Split

UANG » MAKASSAR | 11 Januari 2019 19:33 Reporter : Dwi Aditya Putra

Merdeka.com - Wakil Menteri Energi Dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arcandra Tahar, mengatakan dalam dua minggu ke depan akan ada tambahan enam blok minyak dan gas bumi (migas) produksi dan eksplorasi yang mengalihkan skema kontraknya dari Production Sharing Cost (PSC) Cost Recovery menjadi PSC Gross Split. Keenam blok tersebut yakni Blok Duyung, Blok Muralim, Blok Tanjung Enim, Blok North Arafura, Blok Bungamas dan Blok Sebatik.

"Dua minggu lagi akan berubah dua dan kemarin meeting ada 4 yang mau berubah dari Skema cost recovery menjadi gross split. Jadi hingga pertengahan bulan Februari akan bertambah 6 blok yang menggunakan skema gross split, sehingga total blok yang menggunakan skema gross split menjadi 42 blok," kata Arcandra, di Kantornya, Jakarta, Jumat (11/1).

Arcandra mengungkapkan alasan keenam blok mengalihkan kontraknya menjadi gross split adalah mempertimbangkan keuntungan menggunakan skema gross split yakni, efisien, proses yang tidak berbelit-belit, simple (sederhana) dan lebih memiliki kepastian, di mana parameter pembagian insentif jelas dan terukur. "Karena alasan-alasan itu mereka mengalihkan kontraknya menjadi gross split," imbuh Arcandra.

Adapun, dari keenam blok tersebut, Blok Tanjung Enim merupakan blok migas unkonvensional pertama yang akan menggunakan skema gross split dengan split disesuaikan dengan Peraturan Menteri yang ada, yakni sekitar 16 persen. "POD dan PSC nya inshaa Allah akan kita setujui seperti ENI, POD dan PSCnya kita setujui 1 bulan. Dan saya minta 09 Febuari 2019, selesai," jelasnya.

Dengan bertambahnya enam blok yang mengalihkan skema kontraknya menjadi gross split, total blok migas yang menggunakan skema gross split menjadi 42 blok. Hal ini menunjukkan bahwa sejak diterapkan pada 2017 lalu, skema PSC gross split telah membawa dampak positif terhadap perkembangan investasi migas di Indonesia.

"Pemerintah optimistis tren positif hulu migas ini terus berlanjut dengan lakunya blok-blok migas yang ditawarkan, baik itu blok baru, maupun blok terminasi," pungkasnya.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan ada lima blok migas yang akan siap dilelang tahap I pada Januari 2019. Nantinya lima blok tersebut terdiri dari tiga blok eksplorasi dan dua blok eks-produksi.

"Dalam rencana kerja 2019, rencananya ada 10 blok yang akan dilelang, nah di tahap satu ada lima. Tadi baru rapat dengan Pak Wamen ESDM (Arcandra Tahar) soal terms and condition-nya (T&C), ada arahan-arahan yang sedang kami kerjakan, jadi perlu waktu," kata Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas), Kementerian ESDM, Djoko Siswanto.

Djoko merincikan dari lima blok tersebut, untuk blok eksplorasi yakni Blok Anambas, Blok West Ganal (bekas Makassar Strait), dan Blok West Kaimana. Sedangkan, untuk blok eks-produksi yakni Blok West Kampar dan Blok Selat Panjang.

Djoko menjelaskan, dari tiga blok ekspolrasi ada satu nama yang diganti menjadi Blok West Ganal. Sebab West Ganal tidak sama dengan Makassar Strait, karena Makassar Strait hanya termasuk lapangan migas West Seno yang saat ini sudah beroperasi.

"Makassar Strait kami ganti namanya dengan West Ganal, itu fasilitas produksinya kami keluarkan, jadi sekarang tinggal eksplorasi. Sebelumnya, waktu namanya Makassar Strait, itu ada West Seno-nya," katanya.

Baca juga:
Wamen Arcandra Sebut Dua Blok Migas Akan Ubah Kontrak Jadi Gross Split
Kontrak Blok Sengkang Diperpanjang 20 Tahun, Negara Raup USD 12 Juta
Eni Indonesia Jadi Perusahaan Eksplorasi Pertama Ubah Kontrak Jadi Gross Split
Arcandra Yakin 10 Blok Migas Laku Dilelang Berkat Skema Gross Split
ConocoPhillips dan Pertamina berebut ladang gas terbesar ketiga Indonesia
ESDM tandatangani pengelolaan empat kontrak blok migas
Negara dapat tambahan Rp 16,7 M dari pengelolaan blok migas Merak Lampung dan Citarum

(mdk/bim)