Hingga April 2020, Sektor Jasa Keuangan Masih Stabil di Tengah Pandemi Corona

Hingga April 2020, Sektor Jasa Keuangan Masih Stabil di Tengah Pandemi Corona
UANG | 29 Mei 2020 13:30 Reporter : Anisyah Al Faqir

Merdeka.com - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperhatikan dampak pandemi Covid-19 relatif mulai memberikan tekanan terhadap sektor jasa keuangan. Meskipun dari berbagai indikator dan profil risiko, kondisi stabilitas sistem keuangan sampai saat ini tetap terjaga dengan kinerja intermediasi yang positif.

OJK melaporkan kinerja intermediasi lembaga jasa keuangan April 2020 tetap tumbuh di tengah perlambatan ekonomi akibat pandemi Covid-19.

"Kredit perbankan tumbuh sebesar 5,73 persen yoy, sementara piutang pembiayaan perusahaan pembiayaan tercatat tumbuh sebesar 0,8 persen yoy," kata Deputi Komisioner Humas dan Logistik OJK, Anto Prabowo dalam siaran persnya, Jakarta, Jumat, (29/5).

Selain itu, dari sisi penghimpunan dana, Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan tumbuh sebesar 8,08 persen yoy. Pada April 2020, industri asuransi berhasil menghimpun pertambahan premi sebesar Rp15,7 triliun.

Selanjutnya, hingga 26 Mei 2020, penghimpunan dana melalui pasar modal tercatat mencapai Rp32,6 triliun dengan 22 emiten baru. Di dalam pipeline telah terdapat 67 emiten yang akan melakukan penawaran umum dengan total indikasi penawaran sebesar Rp31,6 triliun.

Profil risiko lembaga jasa keuangan pada April 2020 masih terjaga pada level yang terkendali dengan rasio NPL gross tercatat sebesar 2,89 persen (NPL net Bank Umum Konvensional (BUK): 1,09 persen) dan Rasio NPF sebesar 3,25 persen. Risiko nilai tukar perbankan dapat dijaga pada level yang rendah terlihat dari rasio Posisi Devisa Neto (PDN) sebesar 1,62 persen. Jauh di bawah ambang batas ketentuan sebesar 20 persen.

1 dari 1 halaman

Sementara itu, likuiditas dan permodalan perbankan berada pada level yang memadai. Rasio alat likuid/non-core deposit dan alat likuid/DPK April 2020 terpantau pada level 117,8 persen dan 25,14 persen. Jauh di atas threshold masing-masing sebesar 50 persen dan 10 persen.

Permodalan lembaga jasa keuangan terjaga stabil pada level yang memadai. Capital Adequacy Ratio BUK tercatat sebesar 22,13 persen. Lalu, Risk-Based Capital industri asuransi jiwa dan asuransi umum masing-masing sebesar 651 persen dan 309 persen. Jauh diatas ambang batas ketentuan sebesar 120 persen. (mdk/azz)

Baca juga:
Bisakah Uang Kembali Saat Terjebak Investasi Bodong?
OJK Catat 95 Bank Telah Restrukturisasi Kredit Senilai Rp458,8 Triliun
OJK Keluarkan Kebijakan Lanjutan Relaksasi Sektor Perbankan, Ini Rinciannya
Laporan Keuangan OJK Tahun 2019 Diganjar WTP dari BPK
Satgas Temukan 50 Aplikasi Pinjaman Online Ilegal Berkedok Koperasi Simpan Pinjam
OJK Disarankan Tunjuk Bank Daerah jadi Penyangga Likuiditas

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Menolak Bahaya Lebih Baik Daripada Mengejar Manfaat

5