Indef Sebut Target Pertumbuhan Ekonomi 5,6 Persen di 2020 Kurang Realistis

UANG | 16 Juni 2019 17:00 Reporter : Dwi Aditya Putra

Merdeka.com - Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira menilai usulan pemerintah pada target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,3-5,6 persen dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) Tahun 2020 terlalu berlebihan. Sebab, ekonomi Indonesia sendiri dalam 5 tahun terakhir mengalami stagnasi.

Bima mengatakan sangat tidak realistis angka tersebut dipatok di tengah kondisi ekonomi global yang sedang bergejolak. Belum lagi pengaruh dari perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China juga akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi Indonesia.

"Target pertumbuhan ekonomi pemerintah kurang realistis dan ketinggian. Apalagi perang dagang makin memanas di 2020," kata bima kepada merdeka.com, Minggu (16/6).

Kendati demikian, Bima mengatakan untuk menopang target pertumbuhan ekonomi tersebut pemerintah bisa saja melakukan dengan menawarkan paket insentif bagi investor yang mau relokasi pabrik dari China dan AS. Salah satu contohnya, Indonesia dapat meniru Vietnam yang lebih dulu melakukan penawaran insetif tersebut.

"Pemerintah Vietnam sudah lebih dulu tawarkan paket insentif sehingga jadi pemenang dalam trade war," katanya.

Di samping itu, pemerintah juga disarankan untuk memperluas pasar ekspor ke negara non tradisional dengan strategi kerjasama bilateral untuk turunkan tarif dan hambatan non tarif. Salah satu kawasan sangat prospektif sebagai mitra perdagangan yakni Afrika Utara, Eropa Timur dan Rusia.

"Kemudian berikan aneka kemudahan dan insentif bagi pengusaha lokal yang terdampak trade war misalnya diskon tarif listrik, gas untuk industri. Keringanan PPh badan selama perang dagang berlangsung dan lain-lain," pungkasnya.

Seperti diketahui, Pemerintah Indonesia mengusulkan target pertumbuhan ekonomi berada di kisaran 5,3-5,6 persen dalam asumsi makro Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) Tahun 2020. Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan pemerintah perlu menerapkan kehati-hatian namun tetap optimis untuk mewujudkannya.

"Asumsi pertumbuhan ekonomi tahun 2020 sebesar 5,3-5,6 persen, Pemerintah berpendapat perlunya sikap kehati-hatian namun penting untuk menjaga optimisme yang terukur," kata dia, di Ruang Rapat Paripurna Gedung DPR, Jakarta, Selasa (11/6).

Baca juga:
Jadi Negara Kelas Menengah Atas, Pertumbuhan ekonomi RI Harus Capai 7 Persen
Sri Mulyani Ungkap Kebutuhan Investasi RI Capai Rp5.832 Triliun di 2020
Bappenas Sebut 2020 RI jadi Negara Berpendapatan Menengah ke Atas
Peringkat Utang RI Naik Indikasi Ekonomi Indonesia Stabil
BI Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia di 2020 Capai 5,5 Persen
Pertumbuhan Ekonomi 2020 Ditargetkan Capai 5,6 Persen
Strategi Hadapi Pelemahan Pertumbuhan Ekonomi Dunia Versi Kadin

(mdk/azz)