Indonesia Bisa Contoh Jepang Manfaatkan Bonus Demografi di 2030

Indonesia Bisa Contoh Jepang Manfaatkan Bonus Demografi di 2030
UANG | 16 Februari 2020 22:00 Reporter : Dwi Aditya Putra

Merdeka.com - Staf Khusus Presiden RI, Arif Budimanta menjelaskan bahwa bonus demografi adalah sebuah periode ketika jumlah penduduk usia produktif kisaran 15-64 tahun lebih besar dibandingkan dengan jumlah penduduk di usia yang tidak produktif di bawah 15 tahun dan di atas 64 tahun.

"Di tahun 2030, persentase penduduk usia produktif total mencapai lebih dari 68 persen dari total populasi. Angka ini akan jauh lebih besar seperti China dan India. Bahkan dengan negara-negara berpendapatan tinggi sekalipun," kata Arif di Jakarta, Minggu (16/2).

Arif mengatakan, peran penduduk usia produktif dalam perekonomian nasional nantinya sebagai pendorong produktivitas, penyumbang terbesar pajak, dan kontributor konsumsi terbesar.

"Indonesia harus bisa memanfaatkan momentum demografi. Gagal mengapitalisasi momentum yang ada, maka bonus demografi hanya akan menjadi bencana," kata Arif.

Ketua Umum DPP Perkumpulan Gerakan Kebangsan (PGK) Bursah Zarnubi mengungkapkan kekagumannya pada cara Jepang mengelola bonus demografi sehingga mampu menghasilkan mobilitas penduduk dengan tingkat produksi yang tinggi.

"Yang menarik di Jepang, di tengah penurunan angkatan kerja tapi ekonominya tumbuh mengagumkan mengalahkan Amerika dan Eropa," kata Bursah.

Menurut Bursah, angkatan kerja di Jepang saat ini 1 orang menanggung 2 orang, sedangkan di Indonesia 2 orang angkatan kerja menanggung 1 orang usia non-produktif. Itu artinya Jepang sudah melewati ledakan bonus demografi namun ekonominya tetap stabil meskipun penduduk usia non-produktifnya saat ini sedang tinggi-tingginya.

"Ini yang membuat dunia kaget, di saat deflasi permanen dan di tengah penurunan tenaga produktif kok ekonomi Jepang tumbuh mengakumkan, padahal sekarang puncak-puncaknya Jepang didominasi usia 75 tahun sampai 90 tahun," kata Bursah.

Keadaan ini yang kemudian membuat Jepang dianggap berhasil memanfaatkan bonus demografinya pada tahun 1990-an dengan menyerap 80 persen dari angkatan kerja.

1 dari 1 halaman

Contoh Jepang

rev2

Bursah yakin Indonesia bisa menjadi negara super power pada 2050 dengan kekayaan sumber daya alam yang besar dan memiliki peluang besar menjadi negara nomor lima di dunia.

Selain jumlah populasi dan SDA, Bursah menambahkan soal persatuan dan kesatuan antaranak bangsa dalam bonus demografi sebab jika tidak ada persatuan maka pertumbuhan ekonomi akan menjadi pelambatan dan gangguan.

"Maka anak-anak muda akan sangat menentukan masa depan sejarah Indonesia karena di situ mereka berada. Tanpa tanggung jawab milenial dalam meningkatkan iptek bangsa ini enggak akan kemana-mana," tegasnya.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Muhammad Faisal mengatakan puncak bonus demografi akan terjadi pada 2030-2035. Pada saat itu, kata dia, jumlah kelompok usia produktif, yakni usia 15-64 tahun, diperkirakan jauh melebihi kelompok usia tidak produktif (di bawah 15 tahun dan 65 tahun ke atas).

Menurut Faisal, kelompok usia produktif merupakan mesin pendorong pertumbuhan ekonomi sehingga menjadi peluang paling besar untuk mencapai pertumbuhan ekonomi paling tinggi terjadi pada masa bonus demografi.

"Negara-negara maju seperti Jepang, Kanada atau negara-negara Skandanavia tak lagi produktif karena kelompok usia produktif terus menyusut," tandasnya. (mdk/idr)

Baca juga:
Freeport Janjikan Kapasitas Produksi Kembali Normal di 2022
Wabah Virus Corona Ancam Gerus Ekonomi Indonesia 0,3 Persen
Ekonomi RI Diperkirakan Hanya Tumbuh 4,8 Persen di Kuartal I-2020
Jokowi dan Mari Elka Diskusi Soal Ekonomi RI
Pertumbuhan Ekonomi Papua Merosot, Sri Mulyani Evaluasi Efektivitas Dana Otsus
KSP Soal Pertumbuhan Ekonomi: Tak Capai Target Bukan Berarti Jokowi Ingkar Janji

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami