Indonesia Diimbau Tiru Singapura dan Jepang Soal Pengelolaan Sampah

UANG | 22 November 2019 19:22 Reporter : Siti Nur Azzura

Merdeka.com - Pengelolaan sampah di Indonesia masih jadi pekerjaan rumah (PR) bagi pemerintah dan masyarakat. Mengingat volume sampah yang dihasilkan masyarakat di kota-kota besar meningkat pesat setiap harinya sehingga menjadi masalah bagi sektor lingkungan hidup.

Ketua Indonesia Solid Waste Association (InSWA) Sri Bebassari mengatakan, biaya untuk penanganan masalah sampah cukup tinggi dan ini juga berlaku di negara-negara maju dalam menerapkan pengelolaan sampah. Perhitungan dana yang dibutuhkan bergantung pada volume sampah yang akan diolah dan teknologi yang diterapkan.

Dengan demikian, dia merujuk kebijakan yang dilakukan negara-negara seperti Singapura dan Jepang, di mana warganya membayar iuran untuk pengelolaan sampah.

"Di Singapura, satu rumah tangga membayar sekitar Rp 200 ribu setiap bulan, maka tidak heran sampah bisa dikelola dengan sangat baik. Hal ini juga bisa diterapkan di kota-kota besar di Indonesia," kata Sri melalui keterangan resminya, Jumat (22/11).

Menurutnya, efek yang ditimbulkan adalah hasil pengelolaan sampah itu bisa dijadikan bahan bakar bagi pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSA) dan kompos untuk kegiatan pertanian dan perkebunan. "Jadi, benefit yang ditimbulkan dari pengelolaan limbah sampah juga bisa dirasakan sektor lainnya," imbuhnya.

PLTSA dinilai cocok untuk diterapkan di Indonesia sebagai salah satu alternatif sumber energi. Hal ini sesuai dengan langkah pemerintah dalam mencari sumber energi terbarukan guna menjadi alternatif dari penggunaan sumber energi yang selama ini sebagian besar berasal dari minyak bumi.

Kemunculan sumber energi baru bisa mengatasi ketergantungan Indonesia atas impor minyak bumi yang masih tinggi. Selain itu, hal ini juga bisa mewujudkan target bauran Energi Baru Terbarukan (EBT) sebesar 23 persen pada 2025.

1 dari 1 halaman

Teknologi Pengelolaan Sampah

Sri menjelaskan, aspek teknologi dalam pengelolaan sampah bisa dibagi menjadi teknologi pengelolaan sampah jangka pendek, menengah dan jangka panjang. Nantinya, dampak dari pengelolaan sampah akan bergantung pada teknologi yang digunakan.

Jika mengacu pada peta jalan pengelolaan sampah di ibukota Jakarta periode 2019-2024, ada sejumlah strategi utama dalam menangani masalah sampah di Jakarta.

Strategi utama yang diterapkan itu adalah pengolahan sampah di kawasan mandiri/komersial dan pasar; pembangunan dan pengoperasian TPS 3R, pembangunan dan pengoperasian ITF, pembangunan dan pengoperasian Jakarta Recycling Center.

Selain itu ada juga strategi berupa optimalisasi penggunaan kompos terskala rumah tangga dalam pengurangan sampah dari sumbernya dengan pembinaan dan pengawasan yang komprehensif. (mdk/azz)

Baca juga:
Pemprov DKI Adopsi Saringan Sampah Otomatis dari Australia
13 Tahun Tertunda, Anggaran Saringan Sampah Disetujui Rp197 Miliar
ITF Sunter Bakal Rampung 2022, Jakarta Tak Lagi Bergantung pada TPST Bantargebang
Pemprov DKI Punya 3 Terobosan Jitu Atasi Ketergantungan pada TPST Bantargebang
Sempat Viral, Begini Kondisi Tumpukan Sampah di Kolong Tol Wiyoto-Wiyono
DPRD DKI Pangkas Anggaran Tenaga Ahli Pengelolaan ITF dari Rp10 M menjadi Rp6 M